Tampilkan postingan dengan label 01. BRAHMA PURANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 01. BRAHMA PURANA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juni 2018

BRAHMA PURANA


SANG CANDALA DAN BRAHMARAKSASA

Seorang Candala adalah orang buangan. Di perbatasan kota Avanti, terdapatlah seorang Candala. Di kota ini terdapat sebuah kuil untuk memuja Visnu dan Candala ini adalah pemuja Visnu ia juga adalah seorang penyanyi yang hebat. Ekadasi tithi adalah hari ke sebelas dalam setiap bulan. Setiap bulan pada hari ekadasi ini sang Candala melakukan puasa dan di malam hari ia pun pergi ke kuil Visnu untuk menyanyi lagu pujian untuk Visnu. Ia tidak pernah absen melakukan ritual ini.
Di kota Avanti itu mengalirlah sungai Ksirpa (Sirpa). Dan pada suatu malam yang khusus pada malam ekadasi sang candala itu pergi ke pinggir sungai itu untuk mencari bunga-bungaan untuk memuja Visnu. Di pinggir itu terdapatlah sebuah pohon yang diatasnya terdapat seorang Brahmaraksasa (Jin) dan segera setelah melihat Sang Candala, jin itu segera ingin melahapnya.
“Jangan malam ini. Aku harus memuja Visnu sepanjang malam ini. Sekarang ijinkanlah aku pergi.” Kata sang Candala.
“Itu tidak akan pernah terjadi’ jawab sang jin.” Aku belum makan sejak sepuluh hari yang lalu dan aku kelaparan. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi”
“Tolonglah, aku mohon” kata sang Candala.”ijinkan aku pergi. Aku berjanji bahwa aku akan kembali setelah doa pada Visnu selesai. Dan setelah itu kau bisa melakukan apa saja yang ingin kau lakukan padaku”
Maka jin itupun membiarkannya pergi. Dan sang Candala segera menuju ke kuil itu. Ia memuja Visnu dan menghabiskan malamnya puja puji pada Visnu seperti biasanya. Keesokan harinya, ia kembali pada sang jin untuk memenuhi janjinya.
Melihat hal itu jin itu berkata “AKu sungguh terkejut. Kau benar-benar seorang yang jujur. Kau bukan seorang Candala kau pasti seorang Brahmana. Jawablah pertanyaanku. Apa yang kau lakukan semalam?”
“Aku berdiri di luar kuil Visnu dan menyanyikan lagu-lagu pujian untuk beliau.” Jawabnya.”Berapa lama kau telah melakukan semua itu?” Tanya sang jin.”Selama 20 tahun”jawabnya.
“Aku yakin kau pasti telah mengumpulkan banyak punya (pahala) dengan pengabdianmu itu” kata sang jin.” Mohon berikanlah aku punya (pahala) pengabdianmu selama satu malam saja. Aku adalah seorang pendosa.”
“Tidak, aku tidak akan memberi pahalaku” jawabnya.” Aku telah memberikan tubuhku untuk kau makan, maka makanlah tubuhku ini. Tapi pahala itu tidak akan aku berikan.”
“Kalau begitu” kata sang jin”Berikan aku pahala yang kau dapat kan selama dua jam doa. Aku adalah seorang pendosa.”
“Aku telah mengatakan bahwa aku tidak akan memberikan pahala yang aku dapatkan “ jawab sang Candala.”Ngomong-ngomong apakah dosa yang kau perbuat?” Jin itu pun mulai menceritakannya. Dahulu, namanya adalah Somasarma dan ia adalah putra dari Devasarma. Devasarma ini adalah seorang brahmana yang baik hati. Namun sayang Somasarma melakukan suatu kesalahan besar.
Di mana seorang brahmana tidak diijinkan untuk menjadi pendeta sebuah kurban sebelum ia mendapatkan upacara upanayana. Namun somasarma telah menjadi seorang pendeta meskipun upacara upanayan itu belum dilakukan  padanya. Dan sebagai hasil dari dosa itu, maka setelah meninggal ia pun terlahir menjadi seorang Brahmaraksasa (Jin). Mendengar cerita itu sang Candala menjadi iba, terharu dan bersedia membagi pahala yang dipadatkan nya. Dan jin itupun amat senang dan mengucapkan terimakasih padanya. Ia kemudian pergi ke suatu tempat suci dan melakukan tapa brata. Maka sang jin itupun terbebas dari kutukannya.
Bagaimana dengan sang Candala? Ia kembali ke tempat tinggalnya lalu berangkat untuk melakukan ziarah ke semua tempat suci. Dan di suatu Tirtha ia tiba-tiba teringat akan kisah kehidupannya yang lalu.
Dalam kehidupannya yang lalu, ia adalah seorang pertapa yang mahir dalam Veda dan sastra. Ia biasanya pergi berkeliling untuk meninta sedekah. Suatu kali ia berhasil mendapatkan sedekah, namun beberapa pencuri yang sedang melakukan aksinya untuk mencuri beberapa sapi dan gerombolan sapi itu menimbulkan debu-debu berhamburan dan debu itu jatuh di atas makanan sang pertapa itu hingga membuat beliau jijik dan membuang makanan itu. Karena dosanya membuang makanan, maka ia terlahir sebagai seorang Candala.
Dan setelah melakukan tapa brata untuk menebus dosa itu, maka iapun terbebas dari kutukan itu.

BRAHMA PURANA

PIPPALADA 

        Bertahun-tahun yang lalu ada seorang rsi yang bernama Dadhici. Istrinya adalah Lopamudra. Pertapaan rsi ini tepat disamping sungai Ganga. Saudara perempuan sang rsi juga tinggal disana, namanya Gabhastini. Begitu hebatnya kekuatan rsi Dadhici hingga para daitya dan danava tidak berani menampakan kaki di pertapaan itu.
Para dewa yang pernah bertarung melawan para daitya dan berhasil mengalahkan mereka setelah perang itu selesai, memberi penghormatan kepada Dadhici. Dadhici kemudian menyambut para tamunya dan ingin mengetahui mengapa mereka melakukan penghormatan itu.
Terima kasih atas berkat anda, kami baik baik-baik saja” sabda para dewa. “ Kami baru saja mengalahkan para daitya dlam sebuah perang. Kami memiliki sedikit kesulitan. Sekarang kami tidak memerlukan senjata-senjata itu karena para raksasa telah lari. Kami tidak tahu tempat yang aman untuk menyimpan semua senjata ini. Kami berkeliling barangkali di asrama anda ini adalah satu-saunya tempat yang aman yang bisa kami temukan.
Dadhici menyetujui usul itu. Dan para dewa kemudian menaruh sentaja-senjata itu di dalam pertapaan itu dan kembali ke surga.
Ketika Lopamudra mendengar tentang apa yang dilakukan oleh Dadhichi, suaminya, dia sama sekali tidak menyenangi ide itu.” Kau telah melakukan sesuatu paling tidak benar, paling tidak patut?” demikian katanya.” Seseorang tidak boleh menerima tanggung jawab atas hak milik orang lain, terutama jiika adalah seorang pertapa dan tidak memiliki apapun selain miliknya. Apalagi kau telah setuju untuk menyimpan senjata senjata para dewa. Tidakkan ini berarti bahwa mereka yang menjadi musuh para dewa juga akan menganggapmu musuhnya juga? Dan apa yang kau lakukan jika terjadi sesuatu pada senjata-senjata itu? Tidakkah para dewa akan menyalahkanmu?”
“Aku mengerti maksudmu. Tapi aku tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Dan aku telah terlanjur menyetujuinya. Aku tidak bisa melanggar persetujuan itu.”
Seratus tahun telah berlalu. Namun para dewa belum kembali untuk mengambil senjata-senjata itu. Senjata-senjata itu mulai mulai kehilangan ketajamannya. Dadhici tidak tahu bagaimana mengawetkan keampuhan senjata-senjata itu . ia kemudian menyuci semua senjata-senjata itu di air suci dan tanpa disadarinya kekuatan senjata itu larut dalam air. Dadhici kemudian meminum air itu. Sedangkan semua senjata itu sendiri semuanya sirna begitu kekuatannya larut dalam air.
Akhirnya datanglah para dewa untuk meminta semua senjata mereka. “ Bisa kami minta kembali senjata-senjata kami?” Tanya mereka” Musuh-musuh kami menjadi kuat lagi maka kami membutuhkan senjata itu lagi.”
“Itu bisa saja, tapi semua senjata itu tidak lagi ada di sini. Aku telah menelan kekuatan senjata itu. Aku akan memberi tahu kalian, apa yang bisa kalian perbuat. Aku akan menggunakan kekuatan meditasiku untuk mengakhiri hidupku. Lalu senjata yang maha luar biasa bisa dibuat dari tulang-tulangku.”
Para dewa menjadi amat terkejut , namun mereka tidak punya pilihan lain. Dadhici kemudian meninggal dan para dewa meminta Visvakarma untuk membuat senjata dari tulang tulang rsi Dadhici. Visvakarma mulai menyusunnya dan senjata baru bernama Vajra yang berhasil di buatnya memang maha luar biasa.
Sementara itu Lopamudra, istri rsi Dadhici sedang sedang tidak ada ditempat itu ketika semua peristiwa itu sedang terjadi. Dan ketika kembali dia melihat suaminya telah meninggal. Dia menjadi amat sedih hingga memutuskan untuk membakar dirinya didalam kobaran api. Tapi kebetulan pada saat itu dia sedang hamil, hingga ini tidak dilakukannya saat itu. Saat bayinya telah lahir, dia kemudian membunuh dirinya di dalam kobaran api, setelah menyerahkan bayi itu pada sebuah pohon pippala untuk dipeliharanya.
Karena yang merawat bayi itu adalah pohon pippala maka anak itu kemudian bernama Pippalada. Candra adlah penguasa jenis pohon. Pepohonan lain kemudian meminta Candra untuk memberikan amrta pada Pippalada dan Candra kemudian melakukannya. Dan amrta itu membuat Pippalada menjadi amat kuat.
Ketika Pippalada tumbuh dewasa, ia menanyakan tentang orang tuanya dan pepohonannnya memberitahukannyasemua tentang orang tua nya. Pippalada menyalahkan para dewa atas kematian kedua orang tuanya dan memutuskan untuk membalas dendam. Pepohonan yang merawatnya kemudian membawanya kepada Candra.
“ Kau masih muda. Pertama-tama kau harus terpelajar dan mahir dalam mengggunakan berbagai senjata. Pergilah ke hutan Dandakaranya. Sungai Gautami Ganga mengalir melalui hutan ini. Berdoalah kepada Siva disana dan aku yakin pemintaan akan terkabulkan”demikian kata Candra, penguasa segala tanaman.
Akhirnya Pippalada berhasil membuat dewa Siva berkenan dengan doa-doanya.” Anugrah apa yang kau minta?” Tanya beliau. “ Hamba ingin mendapat anugrah agar hamba bisa menghacurkan para dewa” jawab Pippalada.
“Aku memiliki mata ketiga di tengah dahiku, saat dimana kau bisa melihat mata ketiga dewa Siva. Oleh karena itu Pippalada kemudian melakukan tapa lebih berat lagi dan dalam waktu yang lebih lama. Akhirnya ia berhasil melihat mata ketiga dewa Siva. Dan dari mata ketiga dewa Siva itu lahirlah seorang raksasa yang tampak seperti seekor kuda betina.
“Apa yang kau inginkan “Tanya Raksasa itu pada Pippalada. “ Bunuh musuh-musuhku yaitu para dewa?” jawabnya. Namun tiba-tiba raksasa itu menyerang Pippalada “ Apa yang kau lakukan ?” Tanya Pippalada”Mengapa kau berusaha membunuhku? Aku menyuruhmu untuk membunuh para Dewa.”
“Tapi tumbuhmu diciptakan oleh para dewa oleh karena itu aku akan membunuhmu terlebih dahulu” jawabsang raksasa. Pippalada kemudian berlari kepada Siva untuk meminta perlindungan. Selanjutnya Siva kemudian menandai sebuah wilayah di hutan untuk Pippalada. Di sana raksasa itu tidak diijinkan menginjakkan kakinya disana. Pipplada kemudian tinggal disana dengan tenang., terlindung dari keganasan sang raksasa itu. Sedangkan para dewa meminta Siva untuk melindungi mereka. Kemudian siva membujuk Pippalada untuk mengendalikan amarahnya. Ia meyakinkan Pippalada bahwa tidak ada yang akan bisa didapatkan dengan membunuh para dewa. Hal itu tidak akan bisa mengembalikan kedua orang tuanya.
Pippaladapun setuju. Namun ia meminta untuk bisa bertemu dengan kedua orang tuanya terlebih dahulu. Maka segera saja, sebuah Vimana (kereta anggkasa) turun dari surga yang diatasnya duduklah Dadhici dan Lopamudra. Mereka memberkati Pipplada dan meminta putranya itu untuk menikah dan mempunyai keturunan.
Sedangkan raksasa ganas itu kemudian menjadi sebuah sungai dan bermuara bersama dengan sungai Ganga.

Jumat, 01 Juni 2018

BRAHMA PURANA


VRDDHAGOUTAMA

Rsi Gautama memiliki seorang putra yang bernama Vrddhagoutama. Anak ini juga adalah seorang rsi. Namun wajahnya buruk. Di samping itu, ia tidak memiliki hidung semenjak lahir. Ia menjadi amat malu hingga tidak tahan untuk bergabung bersama anak-anak rsi lainnya untuk belajar Veda dan sastra dari seorang guru. Namun ia mengetahui beberapa mantra yang selalu diucapkan ia juga memuja dewa Agni.
Ketika telah tumbuh dewasa , ia kemudian melakukan perjalanan mengembara menjelajah dunia. Ia mengunjungi banyak tempat dan banyak orang. Karena cacat, ia tidak pernah berhasrat untuk menikah. Pikirnya “ Siapa yang akan mau kawin dengan orang cacat seperti dirinya?”
Dalam perjalanan Vrddhagoutama tiba di sebuah pegunungan yang bernama Sitagiri. Ia melihat gua yang sangat indah dn berpikir bahwa gua itu cukup baik untuk tempat tinggalnya.
Kemuadian dia memasuki gua itu dan terheran ketika ketika melihat ada seorang wanita tua didalam gua. Terlihat jelas bahwa wanita tua itu telah hidup betahun tahun didalam gua tersebut. Tubuhnya kurus dan tidak terhiraukan karena tapa yang berat.
Vrddhagoutama mau menyentuh kaki wanita suci itu sebagai tanda hormat, namun wanita itu menahannya.” Jangan menyentuh kaki ku”kata wanita itu.” Kau adalah guruku. Bolehkah seorang guru merunduk didihapan muridnya?”
Vrddhagoutama terkesima oleh kata-kata itu. Ini adalah kali pertama ia melihat wanita tua ini. “ bagaimana bisa aku adalah guru anda. Anda jauh lebih tua dari diriku. Disamping itu juga aku tidak pernah mempelajari sesuatu sedangkan anda jelas adalah seorang pertapa terhormat. Kata-kata anda sungguh sebuah  misteri bagiku” katanya
“aku akan menceritakan kisahnya. Karena kalau tidak kau tidakkan  pernah mengetahui hal ini.”
Di jaman dahulu ada seorang pangeran pemberani dan tampan yang bernama Rtadhvaja. Ia adalah putra raja Arstisena. Suatu kali Rtadhvaja pergi ke hutan untuk berburu dan tepat sampai digua ini. Disana ia bertemu seorang apsara yang bernama Susyama. Dan keduanya saling jatuh cinta dan menikah. Namun sayang sekali pangeran Rtadhvaja harus kembali ke kerajaanya dan saat itu Susyama melahirkan seorang putri. Susyama kemudian meninggalkan putrinya didalam gua itu sendirian dengan perintah ia tidak boleh meningggalkan itu. Dan orang pertama yang memasuki gua itu akan menjadi suaminya. Putri itulah yang sekarang menjadi wanita tua ini. Rtadhvaja memerintah selama 80 ribu tahun. Jadi wanita ini hidup selama 90 ribu tahun.
“Sekarang kau telah mengerti bahwa kau harus menjadi suamiku” kata wanita tua itu.” Lalu apakah salah kalau aku mengatakan bahwa seorang suami adalah seorang guru?”
“Apa yang anda katakan sangat mustahil, Anda jauh lebih tua dari diriki. Aku baru berusia seribu tahun sedangkan anda lebih dari 90 ribu tahun. Bagaimana bisa menikah ? aku ibarat anak anda sendiri.”
“Jika kau tidak mau mengawiniku maka aku akan bunuh diri” kata wanita itu.” Tapi wajahku buruk. Aku akan mau melakukan semua permintaamu, jika aku bisa menjadi tampan dan terpelajar, barulah aku mau menikahimu.”
“Aku telah berhasil membuat dewi Saraswati berkenan, dewi yang menguasai segala macam pengetahuan, melalui tapaku. Beliau akan membuatmu menjadi terpelajar. Aku juga telah membuat dewa Varuna berkenan dan beliau akan membuatmu menjadi tampan,” demikian kata pertapa wanita tua itu.
Vrddhagoutama menjadi tampan dan terpelajar dan menikah dengan wanita tua itu. Mereka hidup dengan bahagia di sana.
Suatu hari para Rsi dari berbagai macam penjuru datang mengunjungi mereka. Di antara para Rsi agung terdapatlah rsi agung Vasistha dan Wamadewa. Namun disana juga ada pertapa muda yang sama sekali belum dewasa. Para pertapa yang lebih muda mulai mentertawai pemandangan dimana seorang pemuda tampan berpasangan dengan wanita yang jauh lebih tua dari umurnya. Mereka ada yang mengejek dengan bertanya pada pertapa wanita tua .” Siapakah anak muda ini, apakah ia cucu anda ?” demikian ejekan meeka.
Para rsi kemudian pergi, sedangkan kedua pasangan itu meraa amat malu. Mereka kemudian meminta nasehat rsi Agastya tentang keadaaan itudan apa yang harus mereka lakukan . Agastya kemudian menyuruh mereka untuk pergi dan melakukan pemandian di sungai Gautama Ganga. Sungai itu amat suci sehingga segala permintaan dari hati yang tulus terkabulkan. Pasangan itu kemudian melakukannya dan berdoa kepada Visnu dan Civa. Maka aneh bin ajaib, pertapa tua itu berubah menjadi amat muda kembali dengan wajah yang amat cantik. Tempat di pingggir sungai di mana kejadian ajaib terjadi menjadi sebuah tempat suci untuk ziarah yang bernama Vrdhasangama.

BRAHMA PURANA

NAGESVARA

Ada sebuah kota yang bernama Pratisthana. Seorang raja bernama Surasena memerintah di sana. Surasena tidak memiliki seorang anakpun. Setelah berusaha keras maka lahirlah seorang anaknya. Namun anaknya itu berupa seekor  ular. Raja dan permaisurinya merana oleh peristiwa ini. Namun mereka membesarkan anak itu dengan penuh kasih sayang. Tidak seorangpun tahu kalau pangeran itu adalah seekor ular.
Ketika perlahan-lahan pangeran itu tumbuh membesar, ia mulai berbicara seperti manusia, meskipun ia adalah seekor ular. Surasena kemudian menyiapkan pendidikan untuk putranya. Setelah pangeran itu menjadi terpelajar dalam pengetahuan Veda maka ia memberitahu ayahandanya.” Ayah, sudah waktunya aku menikah. Jika aku tidak punya keturunan maka aku pasti akan masuk neraka.”
Raja Surasena sangat terkejut mendengar kata-katanya itu.” Bagaimana hal itu bisa terjadi? Putri mana yang setuju untuk menikah dengan seekor ular?”
“Aku tidak peduli dengan hal itu. Yang aku tahu bahwa bila aku tidak menikah maka aku akan lebih baik bunuh diri. Ada banyak jenis perkawinan yang disahkan. Mungkin saja putri itu di culik lalu dinikahkan denganku.
Surasena kemudian memanggil para menterinya dan memberitahu mereka,” Putraku Nagesvara kini telah cukup dewasa. Ia juga telah pantas untuk menaiki tahta kerajaan. Tidak ada yang menyamainya dalam hal kehebatan di dunia ini, di surga ataupun alam bawah. Aku telah semakin tua. Tolong siapkanlah perkawinannya. Lalu aku akan meningggalkan kerajaan ini dan pergi beristirahat di dalam hutan.
Saat itu sang raja tidak memberitahu kalau Nagesvara adalah seekor ular.
Surasena memiliki menteri yang cukup tua. Menterinya ini memberitahukan bahwa ada seorang raja bernama Vijaya yang memerintah di Negara bagian timur dari kerajaan Surasena. Raja Vijaya memiliki delapan orang putra dan seorang putri. Namun putri itu adalah Bhogavati dan dia sangat cantik. Ia mungkin adalah pasangan yang tepat bagi Nagesvara.
Menteri tua itu kemudian dikirim sebagai utusan untuk Vijaya dan raja menyetujui perjodohan itu. Ada sesuatu adat diantara kaum ksatria bahwa pengantin wanita tidak perlu dikawinkan secara berhadap-hadapan dengan pengantin pria. Dia juga bisa dikawikan (sebagai tanda setuju) dengan sebuah tanda dari pihak laki-laki berupa pedang atau apa saja milik laki-laki itu. Menteri kemudian menjelaskan pada raja Vijaya bahwa ada beberapa alasan yang tidak memungkinkan pangeran Nagesvara yang diwakili oleh pedangnya. Vijaya menyetujuinya dan perkawinanpun dilaksanakan. Seluruh rombongan itu kemudian kembali ke kota Pratisthana.
Tapi setelah upacara perkawinan itu selesai dilakukan apa yang harus dilakukan? Itulah yang ada di benak kita. Namun ibu dari Nagesvara segera mengutus seorang pelayan untuk memberitahu Bhogavati bahwa suaminya sebenarnya adalah seekor ular dan dia harus memperhatikan reaksi Bhogavati. Kemudian pelayan itu memberitahu Bhogavati ,” Suami anda adalah seorang dewa, namun beliau berwujud seekor ular.” Itu adalah keberuntunganku. Biasanya wanita dikawinkan dengan pria biasa. Mungkin aku telah melakukan banyak kebaikan dimasa lampau hingga kini aku menikah dengan seorang dewa.
Bhogavati kemudian dibawa ke hadapan Nagesvara dan ketika melihat putri Bhogavati ini, tiba-tiba Nagesvara teringat dengan masa lalunya. Dalam kehidupan lampaunya yang lalu, ia adalah seekor ular naga dan menjadi pengawal dewa Siva istrinya pada waktu itu adalah Bhogavati.
Pada suatu kesempatan dewa Siva sedang tetawa melihat lelucon Parvati dan Nagesvara ikut-ikutan tertawa. Ini membuat Siva merasa jengkel lalu mengutuk Nagesvara bahwa ia akan telahir dalam rahim manusia dalam wujud seekor ular. Jika dia pergi dan melakukan pemandian di Gautami Ganga maka masa kutukan  itu akan berakhir. Dan ketika Nagesvara menjelaskan hal itu, tiba-tiba Bhogavati juga teringat akan kehidupan lampaunya. Maka keduanya pergi dan melakukan pemandian disana hingga Nagesvara kembali mendapatkan wujud yang tampan dan ilahi. Nagesvara dan Bhogavati meninggal, maka mereka kembali ke puncak Kailasa untuk tinggal bersama Siva
Di pinggir sungai Gautami Ganga, Nagesvara dan Bhogavati membangun sebuah kuil untuk Siva,. Ini adalah tirtha atau tempat suci yang terkenal bernama Nagatirtha.

  JARASANDHA Kamsa menikah dengan dua putrid Jarasandha. Anak-anak perempuan Jarasandha ini adalah Asti dan Prapti. Mendengar bahwa Krishn...