Tampilkan postingan dengan label 02. PADMA PURANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 02. PADMA PURANA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2018

PADMA PURANA


SUKALA (bag. 1)

Kota Varanasi terletak di pinggir sungai Gangga. Di kota suci ini tinggallah seorang Vaisya yang bernama Krkala. Tugas utamanya adalah pertanian, pertenakan dan perdagangan.

Istri Krkala adalah Sukala. Sukala adalah seorang sakti, dia sangat setia pada suaminya. Dia juga adalah seorang wanita yang alim dan jujur mengikuti semua yang diajarkan dalam kitab suci.

Krkala yang telah mengetahui bahwa ‘punya’ bisa didapatkan dengan mengunjungi tempat-tempat suci atau tirtha, memutuskan untuk melakukan ziarah kesebuah tirtha.

Sukala, kemudian memperlihatkan isyarat bahwa ia ingin mengikuti suaminya untuk melakukan perjalanan itu.” Kau adalah suamiku “ katanya.” Adalah kewajiban untuk selalu berada di sisimu setiap saat. Bawalah aku bersamamu, karena aku tidak akan bisa hidup tanpa dirimu. Seorang istri yang bertanggung jawab , harus selalu mengikuti kemanapun suaminya pergi. Terberkatilah istri yang menganggap kaki  suaminya sebagai tempat suci. Terberkatilah istri yang mandi dengan menggunakan air yang dipakai membasuh kaki suaminya. Mohon bawalah aku.”

Krkala memikirkan hal ini dan memutuskan bahwa ia tidak bisa membawa istrinya bersamanya. Dia tidak akan sanggup menghadapi kerasnya perjalanan, namun Sukala tidak mau membiarkan suaminya pergi sendirian. Dan ketika Sukala, telah pergi untuk melakukan persembahyangan, Krkala kemudian pergi begitu saja tanpa memberitahu istrinya.

Mengetahui suaminya telah pergi Sukala menjadi sangat sedih. “Ke mana perginya suamiku?” Tanya pada teman-temannya

“Ia telah pergi untuk melakukan tirtha yatra dan akan kembali. Janganlah bersedih” jawab teman-temannya.

“Baiklah” kata Sukala.”Aku akan tidur diatas tanah hingga suamiku kembali. Aku akan meninggalkan semua makanan mewah dan hanya makan satu kali sehari hingga ia kembali. Aku juga akan berpuasa pada hari-hari tertentu karena aku telah dikutuk hingga suamiku tega meninggalkan aku.”

“Ia tidak meninggalkan mu”balas temannya.” Ia hanya pergi untuk melakukan perjalanan suci dan akan kembali. Apa gunanya kau menyiksa diri seperti itu?”

“Kalian tidak memahami kebijasanaan Veda-Veda”kata Sukala.” Sastra menyatakan bahwa seorang suami adalah satu satunya tirtha bagi istrinya. Tak ada yang akan berarti baginya, jika seorang istri ditinggalkan oleh suaminya. Apakah kalian tahu kisah Sudeva.”

PADMA PURANA

SUDEVA (bag.2)

Raja Iksvaku memerintah kerajaan Ayodhya. Iksvaku memerintah dengan baik. Beliau raja yang jujur dan memuja ajaran Veda dan brahmana.

Tersebutlah seorang raja dari Kasi (Varanasi) bernama Vedaraja (Devarata) dan memiliki seorang putri bernama Sudeva amat setia dan berbakti pada suaminya.

Suatu kali, Iksvaku dan Sudeva pergi berburu. Sang Raja membunuh banyak singa, babi kuda dan kerbau.

Di hutan itu hiduplah sebuah keluarga babi hutan. Babi jantan memberitahu yang betina.” Raja Iksvaku datang untuk berburu ke hutan. Ia membawa banyak pemburu dan anjing pemburu. Sudah pasti ia akan membunuhku.”

“Mengapa kita tidak berlari saja?” Tanya yang betina.
“Memang kadang-kadang aku suka berlari jika yang datang adalah pemburu biasa”kata yang jantan.”Pemburu biasa adalah pendosa dan tidak ada untungnya mati di tangan mereka. Tapi kali ini lain. Kali ini yang datang adalah raja Iksvaku. Aku ingin tinggal disini dan bertarung melawannya. Jika aku menang maka nama dan kemasyuran ku akan abadi. Dan jika aku kalah maka aku mati terhormat di tangan seorang raja besar seperti Iksvaku. Aku tidak mau lari. Aku telah lahir sebagai babi karena babi karena aku telah melakukan banyak dosa di kehidupan lampau. Jika aku mati maka peliharalah keluarga kita.”

“Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?” Tanya yang betina. Kau adalah kepala keluarga. Padamulah keluarga ini mencari perlindungan. Dari dirimulah mereka mempelajari cara hidup babi hutan. Bagaimana aku bisa hidup jika kau mati? Kau adalah suamiku dan tempatku adalah disisimu. Mari kita lari jauh-jauh. Aku ulangi tidak ada yang akan bisa didapatkan dengan mati secara sia-sia.”

“Aku tidak bisa melarikan diri”kata babi jantan.” Karena itu adalah sikap yang kurang jantan dan bagi para pengecut seperti itu akan pergi ke neraka yang bernama Kumbhipaka.”

“Jika begitu halnya, maka aku akan ikut menemanimu. Karena tempatku adalah disisimu” demikian sang istri itu berseru. Dia kemudian memanggil putra tertuanya dan berkata” Ayahmu dan ibu akan pergi. Jagalah adik-adikmu dan bersembunyilah di dalam gua karena raja Iksvaku sedang berburu di sekitar sini.

“Bagaimana ibu bisa berkata begitu?” Tanya putra yang tertua.”Kami adalah putra-putramu dan harus selalu berada disisimu. Dan jika kami melupakan kalian maka kami akan pasti masuk neraka yag bernama Maharoudra. Kami tidak akan membiarkanmu pergi.”

Maka seluruh anggota keluarga babi hutan tersebut menunggu kedatangan sang raja di bawah sebuah gua. Dan mereka pun ditemukan di sana oleh para pemburu yang dibawa oleh sang raja. Para pemburu menyerang babi hutan dengan berbagai senjata. Babi itu membalas menyerang beberapa pemburu dengan taringnya hingga mereka terluka.

Iksavaku amat senang melihat seekor babi yang begitu berani dan mendekati kuda sang raja. Namun babi ini menyerang kuda itu dan membuat raja Iksavaku jatuh dari atas kudanya. Ini membuat Iksavaku kesal dan memukul babi itu dengan gada beliau hingga babi itu tewas. Ia tidak sanggup menahan kerasnya pukulan itu dan tersungkur tewas.

Sementara itu babi hutan betina dan anak-anaknya sedang bersembunyi didalam gua. Sekarang babi jantan sudah tewas, dan para pemburu mendekati gua itu untuk menangkap babi betina dan anak-anaknya.

“Lari anak-anakku!” kata ibu mereka” Aku akan berusaha menghalangi para prajurit ini. Aku berharap bisa mempermainkan mereka cukup lama agar kalian bisa menyelamatkan diri.”

“Kami tidak bisa membiarkan hal itu terjadi”jawab putra tertuanya” Aku adalah anak yang tertua. Sekarang ayahku telah meninggal maka kewajibanku adalah melindungi kalian. Ibu selamatkan diri ibu dan ketiga adikku. Aku akan tinggal di sini dan bertarung dengan para prajurit itu.”

Sang ibu tidak bisa menerima hal itu. Maka mereka berdua tinggal di sana untuk melakukan perawanan dengan para prajurit itu. Sedangkan ketiga babi itu berlari untuk menyelamatkan diri. Babi tertua bertarung dengan penuh keberanian , namun raja Iksavaku berhasil membunuhnya dengan sebuah anak panah. Sedangkan babi yang betina sang ibu, juga bertarung dengan sengit dan terluka oleh para prajurit Iksavaku. Namun Iksavaku tidak mau membunuhnya.

“Mengapa anda tidak membunuh babi yang betina? “ Tanya permaisuri Sudeva.
“Karena babi itu betina, membunuh hewan betina atau seorang perempuan adalah dosa besar”jawab sang raja.

Diantara pasukan pemburu sang raja, terdapatlah seorang pemburu bernama Jharjhara. Ia sama sekali tidak tahu aturan moral, kejam sifatnya. Ia kemudian menebas tubuh babi betina itu dengan pedangnya hingga babi itu jatuh pingsan. Dia tidak langsung mati melainkan tergeletak berdarah.

Sudeva melihat keadaan babi betina yang sangat menderita itu. Dia kemudian menuangkan sedikit air dingin di mulut babi itu dan mengelap darah di tubuhnya yang penuh luka.

“Terima kasih permaisuri yang baik hati”kata babi itu.” Dosa-dosaku telah dibersihkan oleh sentuhanmu. Aku berkati agar kau selalu beruntung.”

Sudeva terkejut mendengar babi betina itu yang tiba-tiba bisa berbicara”Siapakah sebenarnya dirimu?” Tanya sang permaisuri” Dan siapa pula suamimu, yang telah bertarung dengan gagah berani itu? Katakana lah kisah kalian.”

“Pertama aku akan menceritakan tentang suamiku” kata babi betina itu. Babi jantan itu dulunya adalah seorang gandharva yang bernama Rangavidyadhara. Dia adalah penyanyi terkenal di kahyangan.

Tersebutlah rsi Pulastya yang mempunyai pertapaan di gunung Sumeru. Ghandharva ini kemudian pergi ke sana dan bernyanyi . karena demikian indahnya nyanyian itu hingga beliau tidak bisa berkonsentrasi pada meditasinya.

“Pergilah ke tempat lain”pinta sang rsi” Jangan menyanyi di sini”

“Mengapa hamba harus pergi ke tempat lain? Hamba hanya bernyanyi dan nyanyian hamba tidak merugikan atau merusak  orang lain. Bahkan lagu-lagu itu membuat orang menjadi senang. Mengapa anda menentang nyanyian ?”

“Aku bukan tidak menyenangi nyanyian dan aku tidak membenci suatu seni karena aku sadar seni itu mempunyai manfaat tersendiri, namun nyanyian mu menggangguku dan membuatku sulit berkonsentrasi. Itulah mengapa alasannya aku memintamu untuk pergi  dan menyanyai di tempt lain.

“JIka anda tidak bisa berkonsentrasi, itu adalah kekurangan dalam diri anda. Karena hamba tahu bahwa mereka yang benar-benar khusuk bermeditasi, tidak akan terganggu oleh apapun  juga. Hutan ini bukan milik anda , hamba berada disini sama seperti anda. Jika lagu hamba mengganggu anda maka carilah tempat lain di mana anda dengan mudah bisa berkonsentrasi. “ Sang Rsi berusaha mengendalikan amarahnya. Tanpa tawar menawar beliau langsung pergi. Setelah beberapa hari Rangavidyadhara memperhatikan bahwa sang Rsi sudah tidak ada lagi di tempat itu. Ia melihat sang Rsi sudah berada ditempat lain dan membangun pertapaan disana.

Gandharva merasa senang mempermainkan sang rsi oleh karena itulah ia mulai memakai wujud seekor babi hutan dan pergi ke pertapaan Rsi Pulastya. Ia menggali tanah dengan kukunya dan menyerang sang rsi dengan taringnya. Sang rsi memaafkan perbuatan babi hutan tersebut karena beliau menyadari babi hutan tetaplah seekor hewan yang tidak memiliki sopan santun. Namun lebih jauh dengan mata batinnya, beliau menyadari bahwa babi hutan itu tiada lain adalah gandharva itu yang menyamar. Maka beliaupun mengutuk Rangavidyadara agar terlahir sebagai seekor babi.

Menyadari bahwa situasinya telah tidak terkendali, maka gandharva itupun berlari kepada Indra dan menceritakan kisah buruknya yang menimpanya”Mohon tolonglah hamba” demikian ia merengek pada raja para dewa itu.” Hamba hanya melakukan kewajiban hamba. Sang Rsi melakukan meditasi dan hasil dari tapasya tentu saja ia akan mendpatkan kekuatan yang luar biasa. Siapa tahu, nanti ia menginginkan gelar sebagai Indra.”

“Aku tidak bisa membatalkan kutukan para Rsi”jawab Indra” Aku hanya bisa mengurangi efeknya. Jika dalam wujud seekor babi, kau dibunuh oleh raja Iksvaku, maka kau akan menjadi Gandharva sekali lagi.

“Sekarang beritahu aku tentang kisahmu” pinta sang permaisuri. Terdapatlah, sebuah kota bernama Sripura dan seorang rahmana bernama Vasudatta tinggal disana. Vasudatta memiliki seorang putri bernama Sudeva. (Sudeva yang ini tentu bukan Sudeva istri Iksvaku).

Vasudatta adalah seorang brahmana yang baik hati. Ia mempelajari Veda-Veda dan melakukan berbagai ritual agama. Hanya salah satu kesalahannya yaitu ia terlalu mencintai putrinya. Sudeva sebenarnya telah dewasa, namun Vasudatta tidak berusaha mencarikan jodoh untuk putrinya itu. Banyak brahmana yang datang meminang Sudeva, namun Vasudatta menolak mereka semua.

“ Apa yang kau lakukan. Mengapa kau tidak mau menikahkan putrimu?” demikian istinya memprotes Vasudatta.

“Aku mencari seorang brahmana yang mau menikahi Sudeva dan tinggal bersama kita” jawab Vasudatta.” Aku sangat menyayangi Sudeva dan aku mau melepasnya menjadi menantu orang lain. Sebaliknya, menantuku yang harus tinggal bersama dengan kita.

Setelah beberapa waktu berlalu, datanglah seorang brahmana yang bernama Sivasarma untuk mengunjungi Vasudatta. Ia amat mahir dalam ilmu sastra, lebih penting lagi ia tidak memiliki orang tua. Satu-satunya kerabat yang ia miliki adalah keempat saudaranya yang tinggal entah dimana. Ia sendiri tidak mengetahuinya. Vasudata memastikan bahwa Sivasarma tidak akan membantah jika ia dikawinkan dengan Sudeva dan tinggal bersama. Maka perkawinan pun dilangsungkan.

Namun sayang sekali, Sudeva terlalu dimanjakan oleh ayahnya. Dia tidak pernah memahami bagaimana menghormati seorang suami. Ayahnya adalah brahmana yang kaya, sedangkan Sivasarma adalah brahmana yang sangat miskin. Sudeva memperlakukan suaminya dengan tidak hormat, menghina bahakan mencela suaminya. Karena cintanya pada Sudeva maka Sivasarma menahan semua penghinaan itu. Maka suatu hari karena tidak tahan lagi dengan perlakuan itu, Sivasarma meninggalkan rumah mertuanya tanpa sepengetahuan mereka.

“Ini sungguh sebuah bencana besar” demikian kata Vasudatta pada istrinya.” Kita memiliki seorang menantu yang amat baik dan kini ia telah meninggalakan kita karena pelakuan yang yang tidak benar dari putri kita. Ini sangat naïf. Aku ingin membuang Sudeva dari rumah ini.”

“Itu tidak adil” jawab istrinya.” Kaulah yang terlalu memanjakan putrimu. Orang bijak mengatakan bahwa seorang anak dibesarkan dengan cinta pada umur di bawah lima tahun. Setelah itu saatnya dia harus ditempa. Dan jika setelah umur itu kau mengabaikan tempaanya maka dia akan menjadi anak yang manja. Para bijak juga mengatakan bahwa seorang anak putri harus ada dalam pengawasan orang tuanya hingga umurnya delapan belas tahun. Setelah itu, maka sudah waktunya ia dinikahkan. Dan si anak itu harus pergi dengan suaminya. Putri dan menantu sang ayah tidak boleh tinggal dirumah mertuanya. Apakah kau tidak ingat kisah sang Ugrasena?”

PADMA PURANA


UGRASENA (bag.3)

Raja Ugrasena memerintah di kota Mathura. Raja negeri Vidarbha adalah Satyaketu. Dan Satyaketu memiliki seorang putri yang bernama Padmavati. Padmavati ini menikah dengan Ugrasena.

Ugrasena menyayangi istrinya dan setia kepadanya, namun Padmavati, istrinya tidak membalas kebaikan suaminya. Dan jika dibandingkan dengan Satyaketu, Ugrasena memang lebih miskin dan Padmavati selalu membanding-bandingkan kekayaan ayahnya dengan suaminya.

Setelah beberapa tahun berlalu, Satyaketu meminta Ugrasena untuk mengutus Padmavati ke rumah ayahnya. Karena Satyaketu sudah lama tidak bertemu dengan putrinya. Meskipun Ugrasena enggan untuk berpisah dengan istrinya. Ia tetap mengijinkannya untuk mengunjungi ayahnya.

Segala fasilitas yang disediakan oleh Satyaketu ayahnya membuat Padmavati besar kepala dan menunjukkan sikap seolah olah tidak mau kembali kepada suaminya.

Tersebutlah sebuah gunung yang tidak jauh dari ibukota kerajaan Satyaketu. Suatu kali Padmavati kebetulan melewati gunung itu untuk bermain-main. Kubera, dewa Kekayaan memiliki seorang sahabat yang bernama Govila. Kebetulan pada saat itu Govila sedang melintas dengan kereta angkasanya dan pandangannya tertuju pada Padmavati. Padmavati yang cantik itu membuat Govila spontan jatuh cinta padanya. Melalui kekuatan bhatinnya Govila mengetahui bahwa wanita yang mempesona ini adalah istri dari raja Ugrasena. Karena Padmavati telah menikah, Govila menyadari bahwa ia tidak mungkin menikahi wanita itu.

Ia mendapatkan sebuah akal. Ia berubah wujudnya menjadi raja Ugrasena dan menghampiri Padmavati. Padmavati tidak menyadari kalau itu bukanlah Ugrasena yang asli. Ia menyambut Ugrasena seperti menyambut suaminya. Govila kemudiaan membuat Padmavati tertarik dengan kelihaiannya dalam bernyanyi. Padmavati menjadi terkejut melihat perubahan dalam diri Ugrasena yang tidak biasa bernyanyi, namun ia berbaik sangka mengira suaminya mendapatkankekuatan gaib untuk bisa bernyanyi dengan baik.

Setelah mereka tinggal bersama selama beberapa waktu. Padmavati mulai menyadari kalau yang diajaknya itu bukanlah Ugrasena.

“Siapakah sebenarnya kamu dan mengapa menipuku seperti itu?” Tanyanya” Kau bukan suamiku.”

“Memang bukan”jawab Govila.”Tapi mengapa harus bingung? Aku Govila, teman dewa Kubera. Aku tidak akan menipumu jika aku tidak mengetahui kalau kau tidak mencintai suamimu. Apakah kau akan meninggalkannya jika kau mencintainya? Itu adalah salahmu sendiri.”

Setelah berkata begitu, Govila pergi dan meninggalkan Padmavati yang merana. Dia kemudian kembali kepada raja Ugrasena di Mathura. Sang raja ini dengan senang hati menerima kedatangan istrinya. Setelah sepuluh tahun berlalu, lahirlah seorang anak dari rahim Padmavati. Akan tetapi anak ini bukanlah anak dari Ugrasena melainkan anak dari Govila. Anak ini adalah raja Kamsa yang akhirnya dibunuh oleh Krsna.

Setelah menceritakan kisah ini, istri dari Vasudatta meminta suaminya agar benar-benar membuang putrid satu-satunya. Tidak ada untung memiliki putri yang berhati jahat.

Vasudatta kemudian berkata pada putrinya.” Karena kau menantuku yang baik hati Sivasarma telah pergi. Pergilah ke tempat suamimu. Kau tidak lagi milik keluarga ini. Jika kau tidak berhasil menemuinya maka pergilah kemana kau suka.”

Akhirnya Sudeva pergi dan di mana pun ia berada orang orang tidak mau bersahabat dengannya. Ia diabaikan begitu saja, tak seorangpun yang mau berteman dengannya. Jika melihatnya maka orang-orang mulai berteriak .” Seorang pendosa datang” demikianlah mereka berteriak lalu pergi menjauhi darinya.
Sudeva kemudian berpergian dari kerajaan yang satu ke kerajaan lain. Dia amat miskin dan meminta-minta sedekah untuk mempertahankan hidupnya, sebisa mungkin akhirnya dia sampai di kota Vanasthala kerajaan Saurastra.

Dengan membawa mangkuk peminta-minta, dia mengembara mengelilingi kota, meminta sedekah. Dan kali ini ia tiba di sebuah bangunan mewah dengan tembok tinggi. Rumah itu penuh dengan benda-benda berharga dan tampak jelas kalau rumah itu adalah milik seorang yang kaya raya.

“Hamba kelaparan, bolehkah hamba meminta sedekah? Tolonglah hamba”pintanya.

Pemilik rumah segera keluar mendengar seruan pengemis itu dan memanggil istrinya yang bernama Mangala,”Mangala “ demikian ia memanggil istrinya.” Di luar ada orang yang meminta sedekah. Berikanlah sesuatu untuknya!”

Mangala kemudian memberikan banyak makanan dan manisan untuk Sudeva. Ketika Sudeva sedang memakan pemberian itu, pemiliki rmah menyapanya,” Siapakah anda? Mengapa anda berpergian sendiri seperti ini dan mengapa keadaan anda begitu memprihatinkan?”

Ketika Sudva mendengar suara pemilik rumah pada kalimat yang kedua itu. Dia kemudia tersadar kalau orang itu tiada lain adalah Sivasarma. Dia tidak sanggup menjawab dan menundukakan wajah karena perasaan malu.

“Mengapa dia tidak menjawab?” tanya Mangala pada suaminya.” Dan mengapa dia tidak berani menatap wajahmu?”

“Aku akan memberitahu alasannya “ kata Sivasarma.” Sekarang aku mengenalnya. Dia adalah Sudeva, putri Vasudatta. Dia adalah mantan istriku. Dia pasti datang untuk mencariku. Perlakukanlah dia dengan baik.”

Sudeva terperanjat mendengar kata-kata itu, dia tidak menduga kalau dirinya akan diperlakukan dengan baik oleh mantan suaminya yang dulu dihinanya habis-habisan. Dan  Mangala juga memperlakukan dengan sangat baik. Teringat akan perbuatan kejamnya di masa lalu, ia menjadi menyesal tak terhingga. Dan begitu besar penyesalannya hingga meluap menjadi kematiannya, dia meninggal dalam penyesalan.

 Segera setelah Sudeva meninggal. Utusan Yama datang dan mengikat tubuhnya. Mereka kemudian menyeretnya untuk menghadap kepada dewa Yama. Dewa kematian. Yama memberikan hukuman sesuai dengan perbuatan para pendosa dan dalam hal ini dosa Sudeva amat berat. Dia dibuang dari satu neraka ke neraka yang lain. Di satu neraka tubuhnya dipotong-potong dengan senjata, dineraka lain tubuhnya direbus dalam tungku mendidih. Dan setelah mendapatkan berbagai hukuman dalam berbagai neraka, maka Sudeva terlahir kembali. Tapi dia lahir sebagai seekor semut. Setelah sebagai semut mati, Sudeva beruntun terlahir sebagai berbagai jenis serangga dan binatang hingga akhirnya menjadi babi betina.

“Sekarang anda sudah tahu kisahku” kata babi betina itu pada permaisuri Sudeva.” Mohon lakukan sesuatu untuk hamba agar terbebas dari penderitaan ini. Anda adalah wanita yang sangat setia pada suami anda pasti anda telah banyak mengumpulkan banyak pahala. Raja Iksvaku ibarat dewa Visnu dan anda adalah Laksmi. Mohon lakukanlah sesuatu untuk hamba.”

“Aku akan memberikan pahala yang aku kumpulkan selama periuode watu satu tahun” jawab sang permaisuri.

Segera setelah kata-kata itu diucapkan babi betina itu menjadi seorang wanita ilahi, berpakaian yang amat berkilau dan memakai berbagai perihasan permata. Sebuah kendaraan ilahi (Vimana) turun dari langit dan membawanya ke surga.

PADMA PURANA


KEMBALI KE CERITA SUKALA (bag.4)

Sukala membuat teman-temannya terkagum-kagum oleh ceritanya itu.

Maka segera kisah pengabdian Sukala pada suaminya, tersebar luas. Sukala tidak hanya terkenal dikalangan manusia namun para dewa juga mendengarnya.

Indra, raja dari para dewa, ingin menguji Sukala. Beliau mengirim seorang utusan pada Sukala.” Kau menyianyiakan waktumu” kata sang utusan pada Sukala.” Suamimu telah pergi untuk berziarah. Tapi sebenarnya kau telah ditinggalkannya. Mengapa kau sia-siakan masa mudamu dalam penantian yang tiada kunjung habis ini? Menikahlah dengan majikanku.”

“Siapa majikanmu?” tanya Sukala.” Mintalah agar dia muncul dihadapanku.”

Indra kemudian menampakkan diri dengan segala kemewahannya dan kemegahannya. Beliau berusaha membujuk Sukala agar mau menikah dengan nya. Namun Sukala mengabaikan, mengacuhkan kelebihan yang dimilki oleh dewa Indra. Dia tidak saja menolak namun juga memberikan wacana cukup panjang tentang kewajiban seorang istri yang setia kepada suaminya.

Sedangkan di tempat lain, Krkala, suami Sukala, telah kurang lebih menyelesaikan ziarahnya dan sedang dalam perjalanan pulang. Namun tiba-tiba sebuah suara gaib dari langit terdengar. “Krkala”kata suara itu.” Semua perjalananmu untuk mengumpulkan pahala itu, sia-sia. Kau melakukan tirtayatra hanya untuk memuaskan ego rendahmu. Namun para leluhurmu tetap dineraka.”

“Mengapa itu bisa terjadi?” Tanya Krkala.” Mengapa tirthayatra hamba disemua tempat suci menjadi sia-sia?”

“Itu karena kau tidak membawa istrimu bersamamu” jawab suara gaib itu.” Seorang istri yang setia dalam pengabdiannya harus selalu membagi berat ataupun ringan tugas suaminya. Karena kalau tidak demikian, maka tidak ada punya yang bisa dikumpulkan dalam sebuah rumah dimana seorang istri yangs setia dalam pengabdian adalah jauh lebih suci dibandingkan dengan gabungan semua tempat suci. Mengapa kau meninggalkan istrimu sendirian dirumah?

Apakah hal ini pantas dilakukan?”

Mendengar semua itu, Krkala bergegas pulang kerumahnya. Dan suami istri yang cukup lama berpisah itupun saling peluk satu sama lain. Dan mereka berdua kemudian bergabung untuk melakukan sebuah upacara agama agar leluhur Krkala bisa selamat dari neraka.

Indra kemudian tiba untuk memberkati pasangan itu. “Aku telah menguji Sukala agar menikah denganku. Namun pengabdianya pada suaminya sangat tulus hingga semua usahaku gagal. Terberkatilah istrimu. Aku mau meberikan sebuah anugrah untuk kalian berdua. Mintalah.”

“Mohon berikanlah kami anugrah agar kami tidak pernah melenceng dari jalan kebenaran” kata pasangan ini.” Semoga kami selalu setia dalam pengabdian kepada para dewa dan para rsi.”

Maka anugrah itupun telah diberikan. Dan tempat dimana Sukala dan Krkala tinggal sekarang menjadi tempat terkenal yang bernama Naritirtha.

Sabtu, 02 Juni 2018

PADMA PURANA

SOMASARMA

Terdapatlah seorang brahmana yang bernama Somasarma (yang dimaksud di sini bukanlah Somasarma putra Sivasarma).

Somasarma tinggal di sebua tirtha (tempat suci) yang bernama Vamana tirtha di pinggir  sungai Reva. Istrinya  bernama Sumana. Somasarma dan Sumana adalah pasangan yang miskin. Mereka juga tidak memiliki seorang anakpun. Inilah yang membuat Somasarma selalu sedih. Sumana kemudian menyarankan suaminya meminta nasehat rsi Vasistha. Barang kali sang rsi bisa membantu agar mereka bisa memiliki seorang putra.

Somasarma kemudian pergi ke pertapaan rsi Vasistha. “Mengapa hamba ini miskin dan mengapa hamba tidak memiliki seorang putrapun?” demikian pertanyaanya.

“ Kau miskin karena dosa-dosamu yang kau lakukan di masa yang lalu” jawab sang rsi.” Aku akan menceritakannya kepadamu.”

Dalam kehidupannya yang lalu, Somasarma telah terlahir sebagai sudra. Ia telah menghabiskan masa hidupnya  dengan bertani dan berternak dan telah memiliki banyak kekayaaan. Namun ia tidak pernah menyumbangkan sedekah. Ia juga tidak mau mendengarkan sastra dan kitab suci ataupun bertirtha yatra ke tempat-tempat suci. Ia telah terobsesi untuk mengumpulkan kekayaan. Karena dosa inilah Somasarma  terlahir sebagai orang miskin dalam  kehidupannya yang sekarang ini.” Tapi jika semua yang telah hamba lakukan adalah dosa maka bagaimana hamba bisa terlahir sebagai seorang brahmana sekarang ini?” Tanya Somasarma.” Mengapa hamba tidak terlahir sebagai sudra lagi?”

“Kau terlahir sebagai seorang brahmana  karena kau telah melakukan  beberapa perbuatan baik dalam kehidupanmu yang lalu, aku akan menceritakannya.

Di ceritakan ketika Somasarma terlahir sebagai sudra, seorang brahmana terpelajar pemuja Visnu, datang kepadanya sebagai seorang tamu yang terhormat. Suklapaksa adalah pertengahan bulan, periode dimana bulan bersinar penuh dan ekadasi tithi adalah hari kesebelas dalam satu bulan. Keesokan harinya, dari saat brahmana itu datang adalah hari ekadasi  dan sang brahmana melakukan segala vrata (kegiatan agama) yang diwajibkan untuk hari itu. Melihat brahmana yang melakukan ritual puasa dan segalanya, Somasarma juga ikut melakukan Vrata itu. Karena perbuatannya ini Somasarma kemudian terlahir sebagai seorang brahmana.

“Yang harus kau lakukan sekarang ini adalah “ lanjut sang rsi “ Berdoa kepada Visnu. Hanya Visnu lah yang bisa melebur, mengampuni dosamu dan memberikan seorang putra padamu.”

Somasarma dan Sumana kemudian pergi ke pinggir sungai Reva ke sebuah tirtha bernama Kapilasangama. Merekapun mulai berdoa pada Visnu di sana. Mereka mengulang-ulang mantra yang ditunjukan pada Visnu. Ada banyak sekali godaan  ketika Somasarma bermeditasi yang hampir membuatnya putus asa.

Tiba-tiba disampingnya ada seekor ular berbisa , binatang buas hantu dan raksasa. Namun ia tidak membperdulikan dan melanjutkan meditasinya. Panas, dingin dan hujan membuatnya menderita. Namun ia tidak tergoyahkan.

Visnu akhirnya berkenan dan muncul di depan Somasarma. Beliau berwarna biru dan memakai busana kuning. Kedua matanya seperti bunga teratai dan beliau membawa banyak senjata di tangaNya.
“Aku berkenan dengan doamu”sabda sang Visnu.” Apa yang bisa aku lakukan untukmu? Apakah kau ingin meminta suatu anugrah ?”

“Ya benar. Hamba ingin meminta sesuatu”jawab Somasarma”Mohon berikanlah hamba anugrah di mana hamba bisa selalu patuh dan setia pada anda. Mohon pastikanlah hamba agar tidak miskin lagi. Dan mohon berikalah hamba anugrah agar hamba bisa memiliki seorang putra yang akan selalu setia memja anda.
Visnu kemudian menjamin semua permintaan itu.
Maka seorang putra bernama Suvrata terahir pada Somasarma dan Sumana.

PADMA PURANA


INDRA

Suatu kali para dewa menemui dewa Visnu.

“Kami tidak memiliki seorang pemimpin untuk memimpin kami” kata mereka. “ Kami membutuhkan seorang pemimpin. Mohon anda melakukan sesuatu agar kami bisa memiliki seorang pemimpin.”
Dengan kekuatan waskitanya, Visnu menjawab : “ Seorang dewa dengan akan terlahir dari rahim Aditi, ia yang akan menjadi pemimpin kalian dan dengan gelar Indra.

(Aditi menikah dengan rsi Kasyapa.  Aditi adalah ibu dari para dewa yang disebut  sebagai  para Aditya jumlahnya ada 12)

Aditi telah melakukan tapasya selama seratus tahun para dewa (tahun para dewa jauh lebih lama dari tahun manusia). Setelah meditasinya usai lahirlah seorang putra. Anak ini memiliki empat tangan dan tubuhnya bersinar seperti sinar ribuan matahari. Anak ini memiliki beberapa nama di antaranya  Vasudatta, Vasuda, Akhandala, Marutvana, Maghava, Viddouja, Pakasasana, Sakra dan Indra.

Demikianlah, anak ini kemudian menjadi pemimpin para dewa.

  JARASANDHA Kamsa menikah dengan dua putrid Jarasandha. Anak-anak perempuan Jarasandha ini adalah Asti dan Prapti. Mendengar bahwa Krishn...