Tampilkan postingan dengan label 06. NARADA PURANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 06. NARADA PURANA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2018

NARADA PURANA



NARADA DAN SANATKUMARA

Brahma memiliki empat orang putra yang bernama Sanaka, Sanandana, Sanatkumara dan Sanatana. Keempat putra beliau menjadi rsi yang memuja Visnu. Mereka selalu mengejar pengetahuan tentang kebenaran sejati.

Brahma memiliki sebuah kota indah yang terletak di puncak gunung Sumeru. Keempat bersaudara ini pergi mengunjungi kota ini. Di samping kota ini mengalir sebuah aliran sungai Gangga yang bernama Sita. Dan keempat bersaudara itu melakukan pemandian suci disana, yang di mana ketika itu datanglah rsi Narada.

Sanatkumara dan saudara-saudaranya memberi hormat pada Narada yang memberi isyarat bahwa ia menerima penghormatan mereka.

Sanatkumara berkata pada Narada “Anda adalah maha mengetahui segalanya. Anda juga pemuja Visnu yang terkenal. Beritahukanlah kami tentang misteri Visnu itu. Beritahukanlah kami dengan cara bagaimana meditasi bisa dilakukan dengan sukses.”

Narada kemudian berdoa kepada Visnu lalu memulai ceritanya.

NARADA PURANA


MRKANDU (bag.1)

Visnu menolak perbuatan yang dilakukan tanpa keyakinan. Bhakti dan keyakinan adalah ibarat seorang ibu. Sebagaimana semua mahluk di dunia bergantung pada seorang ibu, demikianlah para pemuja Visnu berlindung pada bhakti dan keyakinan mereka. Inilah yang dikatakan oleh Visnu pada rsi Markandeya.

Sanatkumara memotong cerita Narada “siapakah Markandeya itu? Dan apa yang disabdakan oleh Visnu padanya?”

Narada kemudian menceritakan kisah tentang Mrkandu dan Markandeya.

Tersebutlah seorang rsi bernama Mrkandu. Di sebuah tempat suci yang paling terkenal kesuciannya yaitu Salagrama rsi Mrkandu melakukan tapasya selama bertahun-tahun. Ia mengucapkan mantra Veda dan melakukan tapabrata. Hingga ia menemukan suatu keadaan dimana ia merasa menyatu dengan segala benda dan semua mahkluk.

Indra dan para dewa yang lain mulai ketakutan melihat tapasya Mrkandu. Mereka kemudian pergi ke pinggir samudra dan berdoa kepada Visnu. “Dewa,mohon selamatkanlah kami dari tapasya yang dilakukan oleh rsi Mrkandu. Ia akan membuat anda berkenan dan hanya anda yang tahu anugrah apa yang ia minta. Ia kemungkinan menyingkirkan kami dari surga.”

Visnu terjengah oleh doa para dewa itu dan menampakkan diri dihadapan mereka. Beliau membawa terompet kerang, cakra sudarsana dan sebuah gada. Matanya bagaikan kelopak teratai  dan tubuhnya bersinar cemerlang. Busananya berwarna kekuningan dan dipenuhi perhiasan emas permata.

Ketika para dewa mengungkapkan keinginannya Visnu kemudian menenangkan mereka.” Tenanglah, Aku tahu siapa Mrkandu. Ia adalah orang baik dan bijaksana. Ia tidak akan punya keinginnan untuk menekan kalian. Hanya pendosa yang akan meminta anurah yang akan mereka gunakan untuk menghancurkan orang lain. Aku akan pergi menemui Mrkandu dan mencari tahu apa yang diinginkan oleh nya” kata Visnu.

Setelah memberikan berkat itu pada para dewa, Visnu kemudian menemui Mrkandu. Sang rsi sangat senang menerima kedatangan Visnu. Ia kemudian bersujud dan member hormat.

“Aku berkenan dengan tapamu. Mintalah sebuah anugrah padaku” kata Visnu.” Hamba tidak memerlukan anugrah. Hamba sudah cukup puas bisa bertemu anda. Apa lagi yang diinginkan seseorang jika Visnu sendiri telah datang padanya”kata Mrkandu.

“Tidak bisa begitu”kata Visnu.” Jangan sampai ada orang yang mengatakan bahwa Visnu yang menampakkan diri pada seorang pemuja dan tidak memberikan anugrah. Aku akan memberitahukan sesuatu padamu. Aku akan lahir sebagai putramu. Dan setiap generasi atau garis keturunan dimana aku berinkarnasi akan terberkarkati selamanya. Dan itu yang akan  terjadi pada garis keturunanmu.”

Visnu kemudian memberkati Mrkandu lalu pergi.

NARADA PURANA


MARKANDEYA (bag.2)

Mrkandu kemudian memiliki seorang anak yang bernama Markandeya. Karena Markandeya adalah inkarnasi Visnu, maka ia memiliki tubuh yang bersinar dan sekaligus menjadi orang suci. Ia menjadi amat mahir dalam segala pengetahuan dan kitab suci.

Markandeya sejak usia dini telah memuja Visnu. Dan hal itu membuat Visnu berkenan dan memberikan kesempatan pada Markandeya untuk menyusun Purana. Maka purana yang disusunnya itu langsung diberi nama Markandeya.

Secara periodic seluruh dunia akan dihancurkan dan tenggelam oleh air bah. Pada saat iu semua mahluk dihancurkan. Namun Visnu menyelamatkan Mrkandeya. Beliau sendiri akan mengapung di atas air bah seperti lembar daun kering. Ini berlangsung selama bertahun-tahun. Diperlukan perhitungan rumit untuk mengetahui waktu lamanya hal ini berlangsung.

Dalam kurun waktu yang lama mengapung di air bah, rsi Mrkandeya sangat ketakutan, namun ia tetap berdoa kepada Visnu. Dan atas berkat Visnu, Markandeya tidak terluka sedikitpun.

Visnu bahkan menampakan diri dihadapan sang rsi dan bersabda,” aku akan menyelamatkanmu. Aku akan selalu  melindungi mereka yang berdoa kepadaku. Aku juga akan memberitahumu tentang cirri-ciri mereka yang merupakan penyembah sejatiku. Mereka mencintai semua mahluk dan terbebas dari rasa iri hati dan kebencian. Mereka adalah pencinta kedamaian. Penyembah sejatiku adalah mereka yang melayani para rsi, tamu dan orang tua mereka dengan baik. Mereka membangun sumur dan telaga. Mereka membaca dan meterjemahkan purana-purana. Dan pendek kata kaulah yang memenuhi syarat itu.”

Dengan berkat Visnu, Markandeya melakukan berbagai tapasya di sebuah tempat suci yang bernama Salagrama.

Beberapa purana yang lain menyatakan bahwa Markandeya menjadi mahluk abadi atas berkat yang diberikan oleh Visnu. Akan tetapi Padma purana menyatakan bahwa Brahma yang telah memberikan anugrah itu.

NARADA PURANA


VAHU (bag.1)

Dalam dynasty Surya Vamsa ada seorang raja yang bernama Vrka. Vrka memilki seorang anak yang bernama Vahu yang kemudian diangkat menjadi raja setelah kematian ayahnya.

Vahu adalah seorang raja yang baik yang mengikuti sagala aturan dharma. Ia memerintah bumi dengan baik. Dalam kitab suci dinyatakan bahwa setiap kasta harus selalu mengikuti aturan yang ditetapkan bagi masing-masing kasta. Apa yang menjadi kewajiban keempat kasta ini diceritakan dalam Narada purana.

Kembali ke cerita semula, dimana Vahu memerintah dengan bijaksana. Sehingga tidak ada orang yang melanggar kewajiban kastanya. Raja Vahu melakukan upacara Asvamedha di masing-masing dvipa yang terdapat di bumi. Beliau juga tidak hanya adil dan bijaksana namun juga telah menahklukan semua raja di bumi. Rakyat merasa bahagia dan hujan pun turun pada waktunya dan panen mereka selalu berhasil. Para rsi melakakukan meditasi tanpa merasa terganggu oleh rasa takut dan tidak ada yang berani berbuat dosa. Raja Vahu memerintah selama 90.000 tahun.

Namun setelah itu, masalah mulai menimpa. Segala kemasyuran dan kekerasan telah membuatnya mulai besar kepala dan berpikir”Aku akan mengusai semua orang. Aku amat sakti dan telah melakukan berbagai tapasya. Mengapa mereka tidak aku buat untuk memujaku? Apalagi aku adalah penguasa seluruh dunia. Aku tidak melihat ada orang lain yang lebih unggul dariku.”

Ego kelihatan sepele ini tanpa disadari merupakan sebuah bencana dan akan membawa akibat buruk. Kepemilikan atas empat hal yaitu masa muda, kekayaan, kekuasaan dan tanpa pertimbangan, akan membawa seseorang menuju kehancuran. Akan tetapi, disayangkan bahwa keempat hal ini menjadi satu pada diri raja Vahu. Maka ia mulai merasa curiga iri hati sehingga terciptalah permusuhan bagi mereka yang bersifat iri hati.

Diantara raja-raja yang sakti yang menjadi musuhnya adalah raja Haihaya dan Talajangha. Dan karena raja Vahu telah melenceng dari jalan kebenaran, maka Visnu dan Laksmi meninggalkan kerajaannya, sehingga setelah perang selama kurang lebih satu bulan, Haihaya dan Talajangha berhasil mengalahkannya. Mereka menyingkirkan Vahu dan berhasil mengusirnya ke hutan.

Selanjutnya mereka merampas istri Vahu yaitu Yadavi. Kedua musuhnya ini tidak puas hanya dengan mengusir Vahu dari kerajaan, namun mereka juga kawatir jika suatu saat keturunan Vahu akan membalas dendam. Mereka kemudian meracni  Yadavi (dalam cerita ini, agak bertentangan dengan purana lain yang mengatakan bahwa Vahu memilki istri kedua dan istri kedua inilah yang meracuni Yadavi).

Setelah merenungi bencana yang menimpanya, maka Vahu mulai menyesal kesalahan masa lalunya. Bersama istrinya, ia kemudian memutskan untuk meminta perlindungan dan nasehat pada rsi Qurva. Namun karena perjalanan menuju ke asram sang rsi cukup jauh hingga membuat raja VAhu menderita haus dan lapar. Beliau kemudian menemukan sebuah telaga dan meminum air telaga itu. Vahu dan istrinya kemudian beristirahat dibawah sebuah pohon besar.

Di atas pohon itu tinggal banyak jenis burung. Mereka mulai bercakap-cakap sesama burung.” sembunyi, sembunyi, raja Vahu yang jahat telah datang kesini, lebih baik tidak melihatnya.”

Raja Vahu mendengar perkataan burung itu dan meras sangat sedih. Dia juga melihat orang-orang mulai menghinanya dengan bebas. Bahkan rakyatnya juga tidak memperlihatkan simpati setelah melihat raja mereka telah ditahklukan. Ini membuat sang raja sangat sedih hingga tidak ingin hidup lagi untuk selanjutnya. Kesehatannya semakin menjadi semakin buruk dan usia Tanya hampir berakhir. Dan seperti telah ditakdirkan. Ia meninggal saat tiba di pertapaan rsi Ourva.

Melihat hal itu, istrinya yang setia ingin mengikuti suaminya dengan membakar diri dalam kobaran api kremasi suaminya.

Namun rsi Ourva melarangnya dengan berkata,”Kau ingin melakukan suatu perbuatan yang dosanya sama dengan membunuh seseorang. Itu adalah sebuah dosa yang tidak akan aku biarkan terjadi. Hentikanlah pikiran itu. Aku bisa melihat dengan mata batinku bahwa kau akan melahirkan seorang raja yang sakti.” Yadavi mendengarkan kata-kata sang rsi dengan seksama. Hingga akhirnya memutuskan untuk melakukan upacara penguburan raja Vahu dan tinggal dipertapaan sang rsi.

NARADA PURANA


SAGARA (bag.2)

Yadavi tinggal di dalam pertapaan itu cukup lama hingga melahirkan seorang anak yang kelak akan menjadi raja besar (mungkin anda masih ingat tentang kisah ini pada cerita sebelumnya Yadavi telah dacuni. Namun racun itu tidak mempan pada Sagara dan racun itu keluar bersama lahirnya anak itu). 

Dari kejadian itu dimana kata ‘gara’ berarti racun, dan dan  ‘sa’ berarti keluar bersama, maka anak itu kemudian dinamakan sagara yang berarti keluar  bersama racun.

Ourva memberi perhatian yang khusus pada anak itu. Belaiu mengajarkan Sagara berbagai ilmu sastra dan kewajiban seorang raja. Ketika anak itu telah tumbuh dewasa sang rsi juga mengajarkan padanya, tentang seni perang. Demikianlah Sagara kemudian tumbuh menjadi anak yang terpelajar, jujur, dan bijaksana selain juga pemberani dan sakti mandraguna.

Suatu hari Sagara bertanya pada ibunya. “ Ibu, dimanakah ayahku? Siapakah ayahku dan dimana beliau berada? Karena terkutuklah mereka yang tidak mengetahui ayahnya. Mohon beritahukanlah aku, siapa ayahku.”
Sampai saat ini Yadavi sebenarnya masih belum memberitahukan tentang ayahnya yaitu raja Vahu. Tapi saat ini Yadavi tidak punya pilihan lain. Ketika Sagara telah mengetahui hal itu, maka seketika itu juga ia berencana melakukan balas dendam. Kemudian dia meminta berkat pada sang rsi dan ibunya.
Pada masa lampau, yang menjadi penasehat sekaligus guru dari raja Vahu adalah rsi Vasistha, maka ini berarti bahwa Sagara juga berhak menjadi murid Vasistha. Demikianlah Sagara mengadap sang rsi dan dari rsi Vasistha ia mendapat berbagai jenis senjata sakti seperti Aindrastra, Varunastra, Brahmastra dan Agneyastra serta sebuah busur panah sakti. Semua itu membuat Sagara menjadi tidak tertandingi.
Maka dengan semua itu Sagara berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Dan beberapa diantaranya bahkan dibunuhnya. Sementara yang lainya, mulai melarikan diri dan menghadap pada rsi Vasistha untuk meminta perlindungan dan Sagara mengikuti mereka.
Ia berkata,” Guru, jangan biarkan para pendosa ini hidup. Mohon jangan birikan mereka perlindungan. Hanya orang bodoh yang akan menyelamatkan musuhnya dan membiarkan mereka hidup.”
“Jangan “ jawab sang rsi .” Biarkan mereka hidup. Tidak ada gunanya membunuh mereka yang tidak berdaya mereka harus menerima karma dai perbuatan dosa. Lagi pula adalah sebuah dosa jika kita membunuh orang yang sudah meminta perlindungan.”

Maka Sagara membiarkan musuh-musuhnya selamat. Namun ia memberikan hukuman tertentu pada mereka. Seperti salah satu dari musuhnya yang berasal dari golongan saka yang menerima hukuman sebagai mahluk botak. Kemudian para yavana diperintahkan agar sejak saat itu para yavana memiliki rambut panjang. Sedangkan yang lain digunduli kepala dan jenggot mereka dan tidak diijinkan untuk mempelajari Veda.

Selanjutnya Sagara kemudian diangkat menjadi raja oleh rsi Vasistha. Raja sagara memiliki dua orang istri yang bernama Kesini dan Sumati yang merupakan putri raja Vidarbha.

Sementara itu rsi Ourva telah mengetahui  tentang penobatan dan pernikahan Sagara. Maka beliau kemudian datang untuk memberikan berkat padanya.” Aku akan memberikan sebuah anugrah padamu.” Kata beliau.” Salah satu istrimu akan memiliki satu orang anak dan yang lain memilki 60.000 putra. Katakanlah pilhan kalian.

Kesini  meninta satu orang putra dan Sumati menginginkan 60.000 anak. Demikanlah setelah memberikan berkat padanya, rsi Ourva kembali ke pertapaan beliau.

Dalam beberapa hal cerita dalam purana memang kelihatan tidak konsisten dengan yang ada dalam Mahabhata yang menyatakan bahwa Sagara tidak memilki seorang anakpun, kemudian berdoa kepada Siva agar bisa memilki keturunan. Dan disana dinyatakan bahwa anugrah itu diberikan oleh Siva dan bukan rsi Ourva. Dan yang lebih kontra lagi adalah dinyatakan bahwa yang memiliki satu orang putra adalah Sumati dan Kesini 60.000 anak.  
            
Kembali dalam Narada Purana, dimana Kesini lah yang memiliki satu anak.  Sejak kecil, anak itu sudah menunjukkan sifat yang jahat. Karena saking nakalnya, maka ia dinamakan Asamanjasa yang berarti kelabilan, atau ketidakpanutan. Sementara itu Sumati melahirkan 60.000 anak dan menikuti saudara-saudaranya mereka pun menjadi jahat.

Awalnya Sagara mengabaikan perbuatan anak-anaknya. Tampaknya beliau cenderung mengabaikan tindakan anak-anaknya. Sementara itu Asamanjasa memilki seorang putra yang sama sekali berbeda dengan ayahnya dan paman-pamannya. Anak itu bernama Amsumana. Ia sangat baik dan bijaksana.
Namun Asamanjasa dan saudara-saudara tetap berbuat sekehendak hati. Mereka suka menggangu upacara yajna dan para rsi. Mereka menyatakan bahwa segala persembahan harus diberikan kepadanya. Kemudian menculik para Apsara dan wanita penghuni kahyangan. Mereka juga mencuri bunga dan pohon Parijata. Minum merampok dan mencuri adalah kebiasaan buruk mereka. Mereka bahkan menantang perang pada ayahnya. Dan masih banyak lagi kejahatan mereka.

Ini membuat Indra dan para dewa yang lain merencanakan untuk melakukan sesuatu untuk menghancurkan Asamanjasa dan saudara-saudaranya.

Tersebutlah seorang rsi yang bernama Kapila yang sangat setia memuja Visnu. Beliau amat sakti dan dianggap sebagai avatara Visnu. Beliau memiliki sebuah asram di alam bawah bumi. Para dewa kemudian mendatangi tempat itu dan memohon pada rsi Kapila. “ Tuan rsi, selamatkanlah dunia dari kesewenangan para putra raja Sagara.”

“Jangan putus asa” jawab rsi Kapila.” Mereka yang menekan dan menyiksa orang lain adalah perbuatan dosa dan telah ditakdirkan bahwa meeka yang berdosa segera hancur. Para pangeran itu akan segera mendapatkan ganjaran dari perbuatan mereka. Pergilah ke surga dan tenangkan diri kalian karena semua pasti beres.

Para dewa kemudian kembali ke surga.

Sementara itu raja Sagara sedang merencanakn sebuah upacara Asvamedha. Vasistha dan para rsi lainya bertindak sebagai pendeta pemimpin. Dalam upacara ini, dipersembahkan seekor kuda pilihan yang akan dilepaskan untuk berkeliaran kemana saja. Dan Indra memanfaatkan kesempatan itu untuk mencuri kuda itu lalu meninggalkan kuda itu di pertapaan rsi Kapila, di alam bawah bumi.

Yang bertugas menjaga kuda itu adalah putra-putra Sagara. Ketika mendapatkan kuda persemabahan itu telah hilang maka merekapun mencari ke seluruh pelosok loka kecuali alam bawah tanah. Maka para pangeran itu kemudian mencari ke alam bawah tanah. Mereka pergi ke pesisir samudra dan menggali bumi hingga tembus ke alam bawah tanah.

Mereka demikianlah 60.000 pangeran itu beserta Asamanjasa memasuki alam bawah tanah. Dan disana mereka bertemu dengan rsi Kapila dan melihat kuda persembahan yang mereka cari disana. Sementara itu rsi Kapila sedang sibuk bermeditasi.

Para pangeran itu tanpa pikir panjang lagi, langsung menuduh sang rsi telah mencuri kuda persembahan itu, dan mereka mulai mengikat sang rsi.” Ikatlah pencuri ini “ teriak mereka.” Ikat dan bunuh dia. Lihat cara pencuri ini yang bermeditasi itu.

Para pangeran itu mengikat tubuh sang rsi meskipun meditasi beliau tidak terganggu sedikitpun. Namun setelah itu, para pangeran itu mulai membuat sang rsi terbangun. Dan karena saking marahnya, beliau menatap para pangran itu dengan pandangan penuh amarah. Dan karena kesaktian beliau para pangeran itu terbakar menjadi abu. Dan karena saking kuat panasnya dari nyala sorot mata sang rsi, ular-ular yang berada tinggal di alam sana langsung berlarian ke dalam samudra.

NARADA PURANA


Raja Bhagiratha (bag.3)
          
Amsumana, kakek Bhagiratha berusaha mendatangkan Dewi Gangga ke bumi demi keselamatan para pitra, leluhurnya, tetapi sampai maut datang menjemput, keinginannya belum tercapai. Dilipa, putra Amsuman, ayahanda Bhagirata juga tidak berhasil membawa Dewi Gangga ke bumi sampai akhir hayatnya. Bhagiratha, cucu Ansuman meninggalkan kerajaannya kepada para menterinya dan bertekad untuk membawa Dewi Gangga ke bumi untuk menyelamatkan para leluhurnya.

Pada suatu ketika, Bhagiratha mendapat penglihatan tentang Dewi Gangga, “Dewi engkau lahir di kaki Narayana. Ketika Wamana menapakkan kaki tiga langkah sewaktu peristiwa dengan Raja Bali, kakinya dibersihkan tujuh resi dan  Brahma menggunakan diri-Mu. Berkahi kami dan rumah kami dengan diri-Mu.” Kemudian seakan-akan Bhagiratha mendapat jawaban dari sang dewi, “Diriku menghormati upaya leluhurmu dalam beberapa generasi untuk membawaku ke bumi. Akan tetapi kamu tidak mengetahui dampak yang terjadi kala diriku turun ke bumi. Siapa yang kuat menahan kecepatanku? Kemudian, mengapa pula aku harus turun ke bumi? Orang yang berdosa kala mandi di airku akan bersih, dan dosa mereka tertinggal dalam diriku.  Bagaimana aku dibersihkan dari kotoran mereka?” Bhagiratha menjawab, “Duhai Dewi, para resi suci, para penglihat agung, mereka telah melampaui perbudakan karma. Mereka tidak punya pikiran selain Tuhan. Manakala mereka berendam di airmu mereka akan membersihkanmu. Masalah kekuatanmu ketika turun ke bumi, kami akan minta bantuan Mahadewa.”

Dewi Gangga jujur, air bersifat mensucikan, tetapi setelah banyak orang kotor yang mandi bagaimana cara dia membersihkan dirinya. Dirinya hanya memberikan vibrasi sesuai apa yang ada dalam dirinya. Kesucian para suci itulah yang mengembalikan kesucian air. Oleh karena itu manusia perlu waspada dalam melakukan ziarah atau tirtayatra. Banyak orang yang setelah ziarah di tempat tertentu malah menjadi pedagang, karena aura dagang meliputi tempat ziarah atau tirtayatra tersebut. Para sucilah yang memberikan vibrasi kesucian, berada dekat para suci meningkatkan kesucian diri.

Bhagiratha melakukan tapa untuk memperoleh bantuan Shiwa, Sang Mahadewa. Dan Mahadewa bersedia membantunya. Dewi Gangga dengan sedikit kesombongan turun ke bumi dan airnya hilang ditahan rambut Sang Mahadewa. Gangga tidak bisa lepas dari rambut Sang Mahadewa. Setelah itu Gangga diturunkan dengan menetes agar tidak angkuh lagi. Gangga kemudian membagi dalam tujuh aliran dan salah satu aliran mengikuti kereta Bhagirata yang diarahkan menuju gua tempat para leluhurnya yang telah menjadi debu. Dan, akhirnya tumpukan debu leluhurnya tersebut termurnikan.

Perjuangan membawa sungai Gangga ke bumi memerlukan waktu yang panjang, hingga beberapa generasi. Demikian juga perjuangan untuk memperoleh kesadaran bukan merupakan pekerjaan sambilan yang mudah dilakukan. 

NARADA PURANA


RAJA SAUDASA (bag.4)

Saudasa adalah seorang raja. Dan sebagai seorang raja beliau adalah raja yang adil dan bijaksana. Ia terpelajar dalam sastra. Dan karena nasib baiknya, baliau memiliki banyak putra dan cucu dan beliau juga kaya raya. Saudasa  memerintah selama tiga puluh ribu tahun.

Suatu kali raja Saudasa pergi ke hutan untuk berburu dengan diiringi oleh para pemburu dan prajuritnya. Namun ketika sedang berburu seekor kelinci hitam, saudasa terpisah dari pengawalnya. Dalam pengejaran itu, beliau tiba di tengah hutan dimana dua ekor harimau beristirahat. Dengan sebuah anak panah, ia berhasil membunuh salah satu harimau itu. Namun sebelum mati harimau itu menjadi seorang raksasa yang bertubuh amat besar.

“Aku akan membalas dendam” kata harimau yang satunya dan langsung menghilang. Saudasa menjadi agak ketakutan oleh hal itu. Dan ketika bertemu lagi dengan prajuritnya, ia menceritakan semua kejadian itu. Dengan hati yang sedikit gundah gulana, ia kembali ke kota kerajaannya. Setelah beberapa waktu berlalu, raja Saudasa ini memutuskan untuk melakukan upacara kurban. Rsi Vasistha diundang untuk memimpin upacara itu. Dan setelah upacara itu selesai dilakukan, rsi Wasistha pergi menuju sungai untuk melakukan pemandian.

Saat raksasa yang dalam wujud Harimau tempo hari datang menemui Saudasa dalam wujud rsi Vasistha palsu dan Saudasa tidak menyadari hal itu.

“Tuan” kata Vasistha yang palsu itu,” Buatkanlah masakan yang ada dagingnya untukku. Aku mau mandi sebentar.”

Maka Saudasa kemudian melakukan seperlunya dan memerintahkan tukang masaknya. Dan setelah itu raksasa tadi berubah kembali menjadi tukang masak dan memasak daging manusia. Saudasa sama sekali tidak menyadari  hal ini dan menunggu kedatangan sang rsi.

Ketika Vasistha yang asli datang, setelah menyelesaikan pemandiannya, Saudasa mempersembahkan daging manusia itu. Dan tentu saja, sebagai seorang rsi yang sakti, beliau mengetahui hal itu dan murka dan berkata,”Hai raja yang tak tahu diri!”teriak beliau”Sungguh berani kau menyuguhi aku daging manusia. Ini adalah makanan seorang raksasa. Dan karena tindakanmu ini, aku mengutukmu menjadi seorang raksasa yang makan daging manusia.”

Raja Saudasa tidak mengerti apa yang telah terjadi. Namun melalui kekuatan bhatinya, rsi Vasistha mengetahui bahwa semua itu adalah ulah seorang raksasa, dan bukan atas kesengajaan raja Saudasa. Dan mengetahui dirinya telah diperlakukan tidak adil, maka raja Saudasa bersiap-siap untuk mengutuk sang rsi.

Namun istrinya, Madayanti, menengahi dan berkata, “Apakah kau telah lupa diri? Bagaimana kau berani mengutuk gurumu sendiri? Kendalikanlah amarahmu? Bagaimana bisa kau menyalahkan rsi Vasistha karena semua itu?”

Kata-kata itu berhasil melunakkan hati Saudasa. Namun Saudasa telah menggenggam air dan bersiap melakukan kutukan dan itu berarti senjata yang telah siap dilepaskan tidak boleh ditarik kembali. Apalagi kedalam air itu telah ditiupkan mantra-mantra. Dan air itupun telah berubah dan memiliki kekuatan magis yang luar biasa.

Maka Saudasa pun melemparkan air itu pada kedua kakinya hingga berubah menjadi hitam legam. Selanjutnya Saudasa dinamakan Kalmasapada yang artinya’kaki yang berwarna hitam’.

Saudasa kemudian bersujud pada gurunya dan memohon maaf.”Mohon ampunilah hamba” ratapnya. Sebaliknya rsi Vasistha juga merasa telah terlanjur marah atas kutukan yang diberikan pada Saudasa yang tidak bersalah.” Sebuah kutukan yang terlanjur diucapkan tidak bisa ditarik kembali.”kata Vasistha.”Tapi kau tidak akan selamanya menjadi raksasa. Setelah periode waktu dua belas tahun, kau akan kembali menjadi manusia dimana air sungai Gangga akan merubah dan menyucikan mu menjadi wujud semula.”

Raja yang malang itu lalu pergi ke hutan sebagai seorang raksasa. Ia hidup dengan memakan kijang, reptile burung, dan daging manusia. Jika semua mahkluk dalam suatu hutan habis dimakannya, maka ia berpindah ke hutan lainnya. Demikianlah seterusnya, Saudasa raksasa berpindah dari hutan satu ke hutan yang lain.

Akhirnya ia tiba di pinggir sungai Narmada dimana pinggir sungai itu tinggallah seorang rsi bersama istrinya. Saudasa mendekati rsi tiu dan bersiap untuk memangsanya.

Istri sang rsi itu memohon agar suaminya dilepaskan .”Anda bukanlah seorang raksasa sungguhan. Anda adalah seorang raja ksatrya yang sebelumnya menjadi raja. Mohon ingatlah kembali ke usulmu, anda berasal dari generasi Suryavamsa yaitu raja Saudasa atau Mitrasaha. Kembalilah ke jalan yang benar. Aku bagaikan putrimu sendiri. Lindungilah aku dan suamiku.”

Saudasa tidak memperdulikan kata-kata itu dan tetap memakan rsi itu. Ini membuat sang istri menjadi murka dan mengutuk Saudasa “ KAu tidak mau mendengarkan kata-kataku. Oleh karena itu aku mengutukmu. Kau akan mati saat bertemu dengan istrimu. Dan lagi kau akan menjadi raksasa dalam waktu yang lebih panjang lagi.”

“Aku hanya melakukan satu dosa, namun kau mengutukku dua kali. Pertama agar aku mati saat bertemu istriku. Kedua kau mengutukku menjadi raksasa dalam periode waktu yang sangat lama. Sebuah dosa kau hukum dengan dua buah kutukan adalah dosa besar, maka aku mengutukmu menjadi seorang picasa (sejenis asura).” kata Saudasa.

Maka demikianlah dua orang raksasa mengembara dihutan itu, yaitu Saudasa bersama istri sang rsi. Keduanya tiba di pinggir sungai Narmada. Di sebuah pohon beringin, di tempat itu tinggallah seorang raksasa lagi.” Siapakah kalian?” Tanya raksasa itu.

Saudasa dan istri sang rsi itu kemudian menceritakan kisah mereka. Dan bertanya,”Lalu kau sendiri, siapakah kau?”
Raksasa ini kemudian menceritakan kisahnya.
Sebelumnya ia adalah seorang brahmana yang bernama Somadatta dan tinggal di kerajaan Magadha. Ia sangat alim ulama dan bijaksana. Namun sangat disayangkan ia telah menghina gurunya hingga dikutuk menjadi seorang raksasa.

Setelah bertukar masa lalu, mereka ketiganya memutuskan untuk tinggal disana.
Suatu hari, kebetulan seorang brahmana yang berasal dari Kalinga tiba di tempat itu. Brahmana ini bernama GArga. Ketiga raksasa yang melihat kedatangan mangsa mereka, mereka merasa sangat senang.” Ada mangsa “ teriak mereka. Akan tetapi sang brahmana sedang sibuk mengucapkan nama Visnu dan Siva, sehingga mereka tidak bisa meskipun untuk mendekati Garga. Mereka kemudiaan menyapa Garga dan berkata “ Anda pasti orang suci. Kami telah memakan banyak brahmana. Namun anda adalah yangpertama yang bahkan untuk mendekat saja kami tidak bisa. Hanya anda yang bisa menyelamatkan kami. Mohon percikanlah air sungai Gangga ke tubuh kami.”

Garga merasa sangat heran atas kata-kata ketiga asura itu, yang memuja sungai Gangga begitu hebat. Namun ia tetap melakukan permintaan mereka, dengan menggunakan daun Tulasi, beliau memercikaan air sungai Gangga itu ke tubuh ketiga asura itu. Dan seketika mereka berubah menjadi mahluk ilahi. Somadatta dan istri sang rsi langsung naik ke surga.

Sedangkan Saudasa pergi bertirtayatra ke sebuah tempat suci di Varanasi. Setelah itu ia kembali ke kerajaannya dan memerintah dengan bahagia selama bertahun-tahun.

NARADA PURANA


TAPASYA ADITI

Tersebutlah seorang brahamana bernama Kasyapa yang merupakan ayah dari para dewa termasuk Indra. Kasyapa menikah dengan dua putri Daksa yaitu Diti dan Aditi. Para dewa (Aditya) adalah putra Aditi dan para asura (Daitya) adalah putra dari Diti.

Para dewa dan asura senantiasa selalu bermusuhan dan berperang satu sama lainnya. Para asura memiliki seorang raja yang amat sakti yang bernama Vali. Ia adalah putra dari Virocana dan cucu dari Prahlada. Dengan kesaktiannya, Vali berhasil menguasa seluruh dunia dan berencana untuk menahklukan surga. Dalam hal kekayaan ia hamper tak tertandingi lagi. Ia memilki jutaan gajah, kuda, kereta dan angkatan perang yang besar. Dua orang menterinya yang utama adalah Kumbhanda dan Kupakarna. Vali juga memiliki seratus orang putra yang dalam kesaktian dan kecerdasan, menyamai ayah mereka. Dan yang tertian diantara mereka bernama Vana.

Maka teror yang diberikan oleh serangan Vali ke Surga bisa dibayangkan kehebatannya. Mendapatkan ancaman itu, para dewa kemudian berhamburan ke luar untuk bertarung, sehingga terjadilah perang yang dasyat. Tak terhitung jumlah anak panah yang telah dilepaskan hingga langit tampak gelap. Suara roda kereta, ringkikan kuda, raungan gajah dan dentingan busur panah memenuhi medan laga. Mahluk-mahluk di alam semesta menjadi ketakutan seolah alam mereka akan dihancurkan. Para raksasa melemparkan bukit yang besar pada Indra yang kemudian menghancurkan bukit itu dengan anak panahnya. Pasukan gajah berperang melawan pasukan gajah, kuda dengan kuda dan kereta dengan kereta. Dan dalam kurun waktu yang singkat darah membanjiri medan perang dengan mayat mayat yang bergelimpangan. Peperangan itu berlangsung selama seribu tahun dan akhirnya para asura berhasil mengalahkan para dewa. Para dewa disingkirkan dari surge dan menyamar menjadi manusia di bumi.

Sementara itu, Aditi ibu dari para dewa, sangat sedih melihat keadaan anak-anaknya. Dia menginginkan para asura itu dihancurkan dan Indra bisa kembali ke surga. Maka ia kemudian pergi ke Himalaya dan berdoa kepada Visnu. Dia melakukan berbagai posisi meditasi. Sebagian dari tapasyanya ia bermeditasi dengan berdiri satu kaki, kemudian derdiri dengan jempol kaki. Untuk beberapa waktu ia hanya memakan buah buahan, kemudian dedaunan dan selanjutnya hanya meminum air saja. Dia melakukan semua itu tirakat selama seribu tahun.

Dan di tempat lain, Vali telah mengetahui tapabrata yang dilakukan oleh Aditi dan mengutus beberapa pengawalnya untuk menggangu tapa brata itu. Para asura ini kemudian menampakan diri dihadapan Aditi sebagai para dewa dan berkata.” Ibu mohon hentikanlah tapasyamu yang menyiksa diri itu. Tubuhmu sangat lemah dan ibu melakukan semua ini demi kami. Akan tetapi apakah ibu pikr kami akan bisa hidup jika ibu meninggal? Mohon hentikanlah semua ini.”

Namun Aditi tidak menghiraukan segala rayuan dan bujukan para raksasa itu. Dia tetap meneruskan meditasinya kepada Visnu dan ini membuat para raksasa itu marah besar dan dari kemarahannya mereka keluarlah nyala api yang sangat besar yang siap menelan aditi. Namun karena saking hebatnya tapa Aditi, api itu tidak sanggup menyentuh sedikitpun tubuh Aditi. Dan sebaliknya, api itu membakar seluruh isi hutan termasuk para raksasa yang telah mengganggu Aditi.

Setelah kurun waktu yang cukup lama, Visnu akhirnya berkenan menampakan diri dan bersabda,” Aku berkenan dengan tapasya mu. Apa yang kau minta?”

“Anda adalah penguasa segalanya. Mohon berikanlah kami perlidungan  dari para Asura itu” jawab Aditi.
“Aku akan melakukan permintaanmu”jawab Visnu. “ Aku akan lahir sebagai putramu. Dan dalam wujud itulah aku akanmenylamatkanmu dan putra-putramu.”

Maka setelah beberapa hari, Aditi melahirkan seorang anak yang dinamakan Vamana (orang cebol).

NARADA PURANA


SUMATI

Bertahun-tahun yang lampau di masa Satya Yuga, tersebutlah seorang raja yang bernama Sumati. Beliau berasal dari dynasty Candra, yang tampan, adil dan bijaksana, yang memerintah dibeberapa belahan bumi. Sumati tidak pernah berbohong dan selalu ramah hingga tidak pernah mengelak meskipun tamunya adalah seekor anjing sekalipun.

Sumati dan istrinya, Satyamati, adalah pasangan yang setia memuja Visnu. Pasangan ini juga adalah pasangan jatismara, yaitu orang yang mengetahui masa lalunya, kehidupan yang lampau. Sumati dan Satyamati senang member makan orang misin, menggali sumur untuk rakyatnya, dan setia melakukan upacara Dhvajarohana vrata. Dan pada saat itu, Satyamati biasanya menari di kuil Visnu.
Tersebutlah seorng rsi yang bernama Vibhandaka. Beliau dan murid-muidnya, pada suatu saat, datang menemui pasangan ini. Sang raja dan permaisuri merasa sangat senang atas kedatangan orang suci ini dan menyambut sang rsi dengan berbagai persembahan.” Kami sangat bersyukur atas kesediaan anda mengunjungi kami” kata mereka.” Mohon beritahukanlah apa yang bisa kami lakukan untuk anda.”
Vibhandaka kemudian memberkati mereka dan menjawab,” Sungguh orang bijaksana. Anda tidak hanya orang besar, namun juga sederhana. Kesederhanaan adalah akar dari segala kebajikan. Aku sangat senang bertemu dengan kalian. Tidak ada hal yang lain yang kau minta selain jawaban dari dua pertanyaan ini. Mengapa kalian sangat setia melakukan Dhvajarohana vrata dan mengapa Satyavati menari di kuil ini?”

Sumati kemudian menceritakan tentang masa lampaunya.
Dalam kehidupan lampaunya, Sumati sebenarnya seorang Sudra yang bernama Matuli yang sangat Jahat. Matuli biasa menyakiti orang lain dan mencuri persembahan yang diberikan untuk para dewa. Karena ia adalah seorang pendosa, maka ia sangat miskin dan kehilangan, semua putranya. Ia juga ditinggalkan oleh teman-temannya. Oleh karena itulah, ia kemudian pergi ke hutan dan hidup dari daging kijang.

Pada suatu saat, Matuli pernah sangat lapar dan kehausan dan tiba di sebuah telaga di tengah hutan. Ada sebuah kuil disamping telaga ini di mana angsa-angsa dan merak beristirahat. Matuli kemudian memuaskan hausnya dengan meminum air telaga. Ia mlai tinggal di dekat puing-puing kuil itu dan memperbaiki beberapa bagian-bagian dari kuil itu yang rusak. Ia juga membangun sebuah rumah untuknya disamping kuil it, sertamenjadi seorang pemburu.

Dua puluh tahun berlalu.

Ada seorang wanita bernama Kokilini yang lahr sebagai putrid dari seorang pemburu kokilini di jauhi oleh teman-temannya juga kerabatnya hingga dia memutuskan untuk pergi ke hutan dalam keadaan has dan lapar. Disan dia bertemu dengan Matuli yang memberinya buah-buahan daging dan air. Matuli menemukannya berkeliaran di pegunungan Vindhya. Dia adalah putrid seorang pemburu yang bernama dambhika yang telah melakukan berbagai jenis kejahatan semasa hidupnya. Namun setelah suaminya meninggal, maka semua teman dan kerabatnya mulai meninggalkannya sehingga Kokilini ini tidak punya tempat untuk mengadu dan sebagainya.

Matuli kemudian menikahi Kokilini. Mereka tinggal disana dan sering meninum-minuman keras hingga mabuk. Dalam keadaan mabuk, mereka biasa menari dikuil. Dan tepat ketika sedang menari mereka tewas dan pengawal Yama datang untuk menjemput mereka.

Namun Visnu berkenan oleh tarian mereka. Dan pada saat yang sama para pengawal Visnu juga datang dan melarang pasukan Yama membawa kedua orang itu ke neraka. Mereka mempertahankan bahwa kedua orang itu telah membuat Visnu berkenan sehingga dosa-dosa mereka dihapuskan.
Kokilini telah menyenangkan Visnu dengan tariannya, sedangkan Matuli telah memasang umbul-umbul di kuil Visnu, pada saat memperbaiki kuil, dimana pada hari itu adalah pelaksanaan Dhvajarohana vrata. Hal ini membuat keduan kelompok pengawal itu berdebat yang kemudian dimenangkan oleh pengawal Visnu yang selanjutnya membawa Matuli dan Kokilini ke Visnuloka. Kahyangan Visnu. Setelah menikmati pahala mereka selama ribuan tahun disana mereka lahir sebagai Sumati dan Satyamati.

Mereka lahir sebagai Jatismara dan mampu mengingat semua kejadian dalam kehidupan mereka yang lampau. Oleh karena itulah Sumati terus melanjutkan ritual Dhvajarohana dan Satyamati secara rutin menari dikuil Visnu pada hari itu.

NARADA PURANA


DEVAMALI (bag.1)

Orang yang dengan setia memuja Visnu dikatakan sebagai mahluk yang selamanya terberkati.

Bertahun-tahun yang lampau, seorang brahmana yang bernama Devamali tinggal di daerah Raivata. Beliau sangat terpelajar dalam ilmu kitab suci, bermurah hati pada semua mahluk, dan yang lebih penting lagi ia adalah pemuja Visnu yang paling taat. Namun sayangnya, ia memiliki banyak anak dan teman dan seorang istri yang meminta perhatiannya. Dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia harus melakukan perdagangan, yang merupakan pelanggaran bagi seorang brahmana. Ia juga bergaul dengan orang-orang buangan, dan dengan demikian, ia dinyatakan melakukan banyak dosa.

Setelah beberapa tahun, lahirlah dua anak dari Devamali. Merekaa adalah Yajnamali dan Sumali. Perlahan-lahan Devamali mengajarkan pada anak-anaknya itu cara untuk mendapatkan uang.

Selanjutnya, pada  saat itu, telah membuat dan mengumpulkan banyak kekayaan dan harta benda. Pada suatu hari ketika ia sedang duduk menghitung uang emas yang dimilikinya, yang jumlahnya berjuta-juta keeping. Ia berpikir, “Aku telah mendapatkan banyak uang, lihatlah jumlah keeping emas yang berjuta-juta jumlahnya. Tapi sayang, aku harus melakukan semua itu dengan cara yang tidak benar, aku terpaksa menjual barang-barang yang sebenarnya tidak boleh aku sentuh. Tapi apakah tidak aneh, jika dengan jumlah kekayaanku yang tidak terhitung ini, aku masih merasa belum puas. Memang benar pernyataan bahwa kekayaan adalah akar dari segala kejahatan. Manusia selalu mengejar uang, meskipun gignya telah rontok dan kulitnya telah keriput. Orang yang mencari kedmaian seharusnya tidak boleh mengejar kekayaan. Aku rasa usahaku selama ini sudah cukup. Sekarang waktunya bagiku untuk memikirkan kehidupan di akhirat nanti.

Dengan berpikir seperti itu, Devamali memutuskan untuk mengabdikan diri dalam jalan dharma. Ia kemudian membagi harta bendanya menjadi empat dan memberikan dua bagian pada Yajnamali dan Sumali, sedaangkan sisanya ia simpan sendiri.

Dengan maksud untuk mendapatkan pahala, Devamali kemudian membangun kuil, taman, dan sumur. Ia pergi ke pinggir sungai Gangga untuk memberikan sumbangan pada Brahmana. Dalam proses itu, akhirnya ia kehilangan semua kekayaannya. Sehingga akhirnya ia memutuskan untuk melakukan tapasya di sebuah hutan yang dikenal bernama Vadrikasrama. Di dalam hutan itu tinggal banyak pertapa. Dan Devamali kemudian bergabung dengan mereka, ia terus terus bermeditasi pada wujud Brahman yang sejati.

Para rsi yang  disana juga memberikan banyak nasehat tentang spiritual. Ada juga seorang rsi, yang secara khusus mengajarkan tehnik yoga pada Devamali. Beliau adalah rsi Jananti. Melalui tehnik yoga itulah, Devamali berhasil melepaskan diri dari ilusi dunia.

NARADA PURANA


YAJNAMALI DAN SUMALI (bag.2)

Seperti telah diceritakan diatas, Devamali memiliki dua orang putra yang bernma Yajnamali dan Sumali. Yajnamali adalah yang tertua.

Yajnamali membagi sebagian kekayaannya pada Sumali. Sedangkan Sumali selalu menghabiskan kekayaannya untuk hura-hura dan perbuatan amoral. Ketika uangnya telah habis, maka ia mulai beralih menjadi seorang pencuru dan perampok.

Yajnamali berusaha untuk mencegah saudaranya. “Hentikanlah semua perbuatan hina ini” kata Yajnamali. “Yang kau lakukan itu adalah perbuatan jahat. Sadarlah! Jangan beri reputasi buruk pada nama keluarga kita.”

Nasehat kakaknya itu bukan membuatnya sadar, akan tatapi ia malah menjadi sangat marah dan kemudian menghunus pedang dan bersiap untuk membunuh kakaknya. Tetapi prajurit kerajaan yang kebetulan lewat kemudian menangkap Sumali sebelum ia berhasil melukai kakaknya. Selanjutnya dengan memanfaatkan hubungan baiknya dengan pengawal istana Yajnamali kemudian membebaskan Sumali dari penjara. Kemudian ia membagi kekayaannya kepada Sumali. Dan seperti sebelumnya, Sumali menggunakan uang itu untuk berhura-hura dan melakukan kejahatan.

Teman-temannya adalah orang-orang jahat dan orang buangan. Akhirnya ia dihukum oleh sang raja dan dibuang ke hutan. Dan ketika semua itu terjadi, maka semua yang semula menjadi temannya pergi meninggalkan dirinya di hutan.

Lain halnya dengan Yajnamali, yang adalah orang baik. Ia selalu bergaul dengan orang-orang suci. Menyumbangkan sedekah dan membuat sumur. Dalam kegiatannya itu. Ia juga kehabisan semua kekayaannya. Maka Yajnamali kemudian pergi ke kuil Visnu dan menghabiskan waktunya untuk memuja Visnu.

Mungkin karena pengaruh nasib, Yajnamali dan Sumali secara bersamaan, dalam waktu yang sama meninggal. Sebuah Vimana datang mejemputnya untuk pergi ke surga. Dalam perjalanannya, Yajnamali melihat saudara kandungnya sedang dibawa keneraka. Para pengawal Yama sedang memukuli Sumali, yang kelihatan sangat menderita oleh rasa haus dan lapar.

Yajnamali kemudian bertanya pada para pengawal Visnu yang membawanya menuju surga, “ Bagaimana caranya saudaraku bisa dibebaskan dari dosa-dosanya.”

“Kami akan menceritakan tentang cerita kehidupan lampaumu”jawab para pengawal Visnu.” Dalam kehidupanmu yang lampau kau terlahir sebagai seorang Vaisya yang bernama Visvambara. Kau adalah seorang vaisya yang jahat dan melakukan banyak dosa. Karena saking jahatnya kau sampai menelantarkan orang tuamu, teman dan kerabatmu yang juga menjauhimu. Pada suatu hari dalam keadaan haus dan lapar, kau pergi dan mencari perlindungan di kuil Visnu. Saat itu kakimu sangat kotor, dan ketika kau sedang berusaha membersihkannya secara tidak sengaja kau juga membersihkan beberapa bagian dari kuil itu. Dan ini sebuah pahala yang sangat besar bagimu. Karena kau tidak memperoleh makanan, maka malam itu kau berpuasa semalam penuh. Keesokan harinya kau mati karena digigit oleh ular berbisa. Tapi pahala yang kecil itu sudah cukup membuatmu untuk pergi alam surga, sehingga dalam kehidupan sekarang ini kau lahir sebagai Yajnamali.
“Jika kau tanyakan adalah saudaramu, maka tentu saja ada cara untuk membebaskan dari dosa-dosanya. Berikanlah pahala yang dapatkan ketika membersihkan bagian kuil itu dan ia pasti akan terbebaskan.”

Yajnamali kemudian melakukan seperti yang telah disarankan padanya. Setelah itu, para pengawal Yama langsung melepaskan Sumali dan melarikan diri. Dan sebuah vimana turun untuk membawa Sumali ke surga. Kedua bersaudara itu bisa bersatu kembali.

  JARASANDHA Kamsa menikah dengan dua putrid Jarasandha. Anak-anak perempuan Jarasandha ini adalah Asti dan Prapti. Mendengar bahwa Krishn...