Tampilkan postingan dengan label 05. BHAGAVATA PURANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 05. BHAGAVATA PURANA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2018

BHAGAVATA PURANA

PENGADUKAN SAMUDRA 


     Bhagawan Abhyasa mengatakan bahwa peperangan antara dewa dan asura, antara kebaikan dan kejahatan selalu terjadi sejak awal kehidupan. Demikian pula yang terjadi dengan peperangan antara kebaikan dan kejahatan di dalam diri. Menjaga kesadaran dan membuang pola lama harus terus dilakukan agar kesadaran tetap terjaga. Bahwa ada asura yang baik dan berkesadaran tinggi seperti Prahlada, membuktikan bahwa benih potensi kebaikan pun ada dalam diri tiap asura. Bali putra Wirochana, cucu Prahlada, memiliki potensi kebaikan, akan tetapi pada saat itu potensi kebaikan tersebut masih tertutup belenggu pola lama dari genetik asura. Dan terjadilah beberapa kali pertempuran antara para dewa dipimpin Indra dan para asura dipimpin Bali.

     Dalam beberapa peperangan terakhir para dewa di bawah pimpinan Indra terdesak oleh para asura di bawah pimpinan Bali, sehingga para dewa menghadap Wisnu yang berkuasa sebagai pemelihara alam. Mereka mohon petunjuk bagaimana caranya agar mereka dapat terus hidup dalam melawan ketidakbenaran. Wisnu memberi petunjuk kepada para dewa, agar mereka mengadakan  gencatan senjata dahulu dengan para asura.  Mereka perlu mendapatkan Amerta, obat yang melindungi diri dari kematian. Untuk itu samudera  harus diaduk. Gunung Mandaragiri dapat di jadikan alat pengaduk dan ular raksasa Wasuki dijadikan sebagai tali pengikat gunung. Para dewa harus bekerja sama dengan para asura, tidak dapat bekerja sendiri. Para Dewa harus mendapatkan Amerta yang akan keluar dari samudera. Pertama kali akan keluar racun Kalakuta, setelah itu keluar beberapa hal lainnya. Diharapkan para dewa tidak ngotot, dan apabila ada benda yang diminta para asura agar diberikan saja. Para dewa diminta fokus pada Amerta.

     Para asura setuju untuk mengadakan gencatan senjata dan bekerjasama demi mendapatkan Amerta. Hanya sebetulnya yang berada di benak para Dewa dan para Asura lain. Para Dewa ingin mendapatkan Amerta bagi keabadian dalam menegakkan dharma, sedangkan para Asura ingin mendapatkan keabadian dalam kenikmatan indera dan pikiran. Sebagaimana yang terjadi dalam persaingan antara dua kelompok, mereka telah menyiapkan rencana alternatif  untuk merebut Amerta dari tangan saingannya.

     Pertama kali para Dewa memegang kepala Wasuki yang membelit gunung dan ekornya dipegang para Asura. Para Asura tersinggung, merasa martabatnya direndahkan maka mereka meminta yang memegang kepala. Para Dewa menuruti kemauan para Asura. Kendati demikian gunung tersebut tenggelam di samudera karena beratnya. Sang Pemelihara Alam mewujud sebagai kura-kura raksasa, Kurma Awatara. Bertindak sebagai penyangga di bawah gunung. Banyak yang tidak tahu mengapa gunung tersebut tidak tenggelam lagi. Akibatnya luar biasa,  semuanya merasa bersemangat, bekerjasama, bergotong-royong. Dia merasuk ke semua makhluk dan membuat semua makhluk merasa bersemangat.  Dia adalah gairah yang berada dalam hati Gunung Mandaragiri. Dia adalah ketidaktahuan Wasuki. Dia juga merupakan sifat alami Asura. Dia juga adalah sifat kelembutan Dewa.

      Setelah beberapa lama, Wasuki ngos-ngosan dan dari mulutnya keluar asap, para Asura yang memegang kepala tidak kuat. Wisnu datang sebagai hujan dan angin sepoi-sepoi dan membawa asap dengan angin. Semua makhluk merasa ditolong Tuhan. Memang demikian. Tetapi bukan berarti hanya dia yang dicintai dan ditolong-Nya. Dia tidak membeda-bedakan. Semuanya sejatinya adalah Dia, hanya pikiran lah yang membuat merasa terpisah. Samudera diaduk terus dan seakan-akan nampak sebagai susu.  Muncul racun Kalakuta. Udara menjadi beracun dan semua Asura berlarian, para Dewa pun pada tidak kuat. Dan para Dewa mohon pertolongan Shiwa, Sang Mahadewa. Sang Mahadewa melindungi mereka yang percaya, menelan racun masuk kerongkongan dan tetap di lehernya. Perbuatan penuh kasih. Setetes racun jatuh dan menjadi rebutan ular, kalajengking, lipan dan binatang merayap lainnya.

    Semuanya kembali mengaduk, dan kemudian keluar Kamadhanu, Sapi Suci. Selanjutnya Ucchaisrawa, Kuda Sakti yang diminta Bali. Kemudian Gajah Airawata untuk Indra. Permata Kaustubha dipakai Wisnu. Pohon Parijata dan para Apsara diambil Indra. Setelah itu keluar Laksmi yang semuanya menginginkannya. Laksmi melihat para Asura masih keras dan mau menang sendiri. Para Resi pun, nampak belum menaklukkan kemarahan dan masih sering mengutuk. Guru Sukra  pun bijak tapi masih belum mengetahui tentang ketidak-terikatan. Candra tampan, akan tetapi belum menaklukkan nafsu. Indra penguasa, tetapi belum mampu menaklukkan keinginan.  Hanya Wisnu yang tidak menginginkannya. Dia telah melampaui Tri Guna. Laksmi menjatuhkan pilihan untuk mengikuti Wisnu.

    Pada akhirnya keluar Dhanwantari membawa mangkuk Amerta. Para Asura dengan cepat melepaskan Wasuki, alat itu sudah selesai digunakan, mengapa repot? Wasuki dilemparkan dan mereka merenggut bejana berisi Amerta. Tiba-tiba terjadilah perebutan diantara para Asura, siapakah yang berhak mencicipi Amerta lebih dahulu. Berlomba dengan teman sendiri, merasa paling unggul diantara sahabat adalah sifat asura.

     Suasana mendadak hening, dan dalam keheningan tersebut muncul seorang wanita yang sangat jelita.  Para Asura dan para Dewa duduk bersimpuh di hadapan wanita jelita tersebut. Para Asura ternganga dan langsung menyerahkan bejana berisi Amerta, “Wahai bidadari jelita, kami yakin dikau bertindak adil, ambillah dan bagikan kepada kami menurut pendapatmu.” Para Asura tetap ternganga dan terpesona, padahal sambil jalan berlenggok, Dia menyendok Amerta untuk para dewa di sisi lainnya. Lupa diri membuat para asura lalai, alpa. Mereka berpikir, “Huh, para Dewa memang tidak bisa menghargai kecantikan yang belum pernah ada sebelumnya di permukaan bumi ini.” Hanya Asura Rahu yang waspada, paham keadaan dan segera menyamar sebagai Dewa dan duduk antara Surya dan Candra.  Rahu telah mendapatkan Amerta. Wanita itu tahu tapi membiarkan saja. Baru setelah Surya dan Candra memberi tanda, maka leher Rahu dipotong.

     Kejadian tersebut menyadarkan para Asura, dan Mohini, sang wanita jelita kembali mewujud sebagai Wisnu dan menghilang. Tindakan Surya dan Candra tersebut membuat marah Rahu, maka pada waktu tertentu dia akan menelan Surya dan Chandra. Akan tetapi pemberitahuan kepada Mohini telah menyelamatkan mereka, karena begitu mereka ditelan Rahu setelah sampai di leher mereka keluar lagi. Konon itulah sebabnya peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan hanya memakan waktu sebentar saja.


BHAGAVATA PURANA

SUKANYA DAN CYAVANA

     Pada akhir Pralaya yang ada hanya Narayana, tidak ada yang lain. Dari pusar Narayana nampak bunga teratai dan dari bunga teratai muncul Brahma. Marici keluar dari pikiran Brahma dan akhirnya kawin dengan Kala dan mempunyai putra Resi Kasyapa. Kasyapa kawin dengan Aditi menurunkan para dewa diantaranya adalah Dewa Surya. Putra Surya adalah Shraddadewa yang merupakan kelahiran kembali dari Satyawrata yang selamat dari kalpa sebelumnya dan menjadi Manu dalam Waiwaswata Manwantara. Ikswaku adalah keturunan Shraddhadewa yang terkenal sebagai raja agung dari Dinasti Surya. Salah satu putra Manu adalah Saryati yang terkenal sangat adil yang mempunyai putri bernama Sukanya. Suatu ketika Raja bepergian ke hutan beserta rombongan pasukan dan Sukanya, sang putri turut serta.  Bagi sang raja putrinya yang telah menjadi gadis tersebut dianggapnya masih sebagai anak-anak layaknya. Semua keluarga dan seluruh masyarakat mencintai sang putri yang sederhana dan selalu bertindak ramah terhadap siapa saja.

     Adalah seorang Resi bernama Cyawana yang bertapa dengan keras dan seluruh tubuhnya sudah tertutup lumpur dan dedaunan selama bertahun-tahun. Dari jauh hanya nampak seperti gumpalan tanah dengan dua lubang di matanya. Matanya memancarkan api yang membuat gumpalan tanah tersebut mempunyai dua buah lubang. Sang putri bermain-main di sekeliling rombongan raja dan tertarik dengan gumpalan tanah dengan dua buah lubang tersebut. Diambilnya ranting dan ditusukkanlah ke dalam dua lubang tersebut. Sang resi yang tengah bermeditasi merasa terganggu dan segera seluruh rombongan sang raja menjadi lumpuh. Sang resi kemudian bertanya siapa yang telah mengganggu samadinya. Sukanya lari kepada sang raja dan menceritakan kejadiannya.


     Sang raja mohon maaf atas kesalahan sang putri dan paham bahwa meditasi yang telah dilakukan sang resi selama bertahun-tahun menjadi terganggu. Dan itu adalah sebuah pengorbanan yang sangat besar. Untuk itu sang raja menawarkan sang putri untuk dinikahkan dengan sang resi. Akhirnya Sukanya dinikahkan dengan Resi Cyawana dan tinggal di hutan. Sukanya yang merasa bersalah patuh terhadap keputusan ayahandanya. Sukanya menjadi istri yang baik yang setia terhadap suaminya dan melayaninya dengan sebaik-baiknya. Baginya suaminya adalah wujud Narayana untuk membimbing dirinya, dan dalam waktu yang singkat kesadaran Sukanya meningkat. Sukanya melayani suaminya seperti Dewahuti melayani Kardama.

     Tersentuh oleh kesetiaan sang Istri terhadap dirinya yang sudah tua dan hidup di tepi hutan belantara, maka Resi Cyawana berdoa dengan penuh kesungguhan terhadap Dia Hyang Maha Memiliki Segalanya.

     Pada suatu hari sepasang kumara, makhluk setengah dewa Aswin Kembar datang ke pertapaan Cyawana. Sang Resi merasa bahwa kedatangan mereka adalah merupakan jawaban dari doanya. Sang resi memberikan hormat dan berkata, “Kalian adalah penyembuh dan pemberi obat kepada para dewa. Karena engkau seorang profesional, maka para dewa tidak memberikan “soma” sepanjang upacara persembahan yajna. Engkau dianggap sebagai dewa dengan status yang lebih rendah. Bila kau bersedia membuatku menjadi muda dan tampan, maka aku akan membuatmu mendapatkan bagian soma.” Aswin Kembar setuju, dan kemudian mereka mengucapkan beberapa mantra. Setelah itu, Resi Cyawana diminta mengikuti mereka masuk danau. Keluar dari danau Sukanya melihat tiga pemuda tampan memakai kalung bunga teratai. Sukanya menyembah mereka bertiga dan mohon diberitahu yang mana suaminya. Aswin kembar memberitahu ciri-ciri suaminya dan kemudian mereka mohon diri dan kembali ke surga.

    Beberapa waktu kemudian Raja Saryati pergi ke pertapaan Cyawana untuk menanyakan masalah yajna, sekaligus menengok putrinya. Manakala sang raja masuk pertapaan, dia melihat putrinya sedang bercengkerama dengan pemuda tampan seperti dewa. Raja segera melengos dan pergi meninggalkan pertapaan. Sukanya mengejar sang raja, akan tetapi sang raja tidak mau melihat wajah putrinya.  Sukanya berkata, “Ayahanda aku kangen dengan ayahanda, akan tetapi mengapa menatap wajahku saja ayahanda tidak mau?” Sang raja berkata, “Engkau adalah keturunan Manu yang agung. Mengapa kamu merendahkan diri dengan menipu Resi Cyawana dengan berselingkuh dengan anak muda? Bagaimana kamu dapat melakukan perbuatan serendah itu?”

       Dari belakang sang anak muda tampan datang menyusul dan tersenyum. Sukanya berkata, “Ayahanda, anak muda ini adalah menantumu, Resi Agung Cyawana!” Kemudian Sukanya dan Cyawana menceritakan kisah mereka dan tentang kebaikan Aswin Kembar. Tak lama kemudian, Resi Cyawana menyelenggarakan upacara Somayajna dan mengundang Aswin Kembar. Indra datang dan merasa tidak senang dengan peningkatan status kedewaan Aswin Kembar. Indra mengangkat wajra untuk memukul Cyawana, akan tetapi lengannya mendadak lumpuh dan wajranya tak berdaya. Indra kemudian menyadari bahwa dia tak perlu egois dan kemudian membiarkan Aswin Kembar turut serta menikmati soma sebagaimana layaknya dewa. Dalam kisah Mahabharata, Dewa Aswin Kembar dipuja oleh Dewi Madrim istri Pandu, Raja Hastina, sehingga dari Dewi Madrim melahirkan putra kembar tampan bernama Nakula dan Sadewa.

     Bagi Sukanya, hidup berkesadaran dibawah bimbingan Resi Cyawana sudah cukup baginya, dan dia tidak mempunyai keinginan yang lain lagi. Bagaimana pun setelah melihat Resi Cyawana menjadi muda kembali ayahandanya menjadi bahagia bahwa putrinya mendapatkan resi bijaksana yang sepadan dengan kecantikan dirinya. Sang raja tidak mempunyai rasa bersalah menjodohkan putrinya dengan seorang resi yang sudah tua

Selasa, 05 Juni 2018

BHAGAVATA PURANA


AMBARISA

     Resi Shuka melanjutkan cerita tentang Bhagawata Purana kepada Parikesit, “Bhagawata adalah pohon besar. Sesungguhnya Tuhan, Narayana adalah benih dari pohon ini. Brahma adalah tanaman yang muncul dari benih sebagai tunas, pohon muda dan kemudian tumbuh menjadi pohon. Narada adalah batang pohon tersebut. Bhagawan Abhyasa adalah cabangnya. Bhagawata Purana, Kisah Ilahi yang suci adalah buah yang manis yang terletak pada cabang pohon tersebut.”

     Ambarisha adalah putra Nabhaka yang menjadi raja bumi dengan kekayaan yang tak terukur. Walaupun demikian, Ambarisha mempunyai keyakinan bahwa hal-hal duniawi bersifat sementara dan hal-hal duniawi selalu mencoba memperdaya kebijaksanaan manusia. Oleh karena itu ia menganggap kenyamanan dunia sebagai mimpi. Ia menikmati semua kekayaannya dan kemuliaannya tetapi tidak terikat dengan dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Ambarisha adalah seorang bhakta Narayana seperti halnya Nabhaka, ayahnya. Hidupnya selalu berada dalam ketenangan. Kata-kata yang diucapkannya hanya merupakan pujian terhadap Tuhan yang selalu penuh kelembutan. Seluruh perbuatannya hanya merupakan pelayanan  terhadap semua wujud Tuhan. Pada suatu ketika, Resi Wasistha, Asitha dan Gautama membantu sang raja dalam upacara Aswamedha di tepi sungai Saraswati dan Narayana muncul memberi karunia kepada sang raja dengan senjata pribadinya, “Sudarsana Chakra”. Bagi Ambarisha, Sudarsana Chakra adalah simbol dari Narayana. Sejak masih muda, saat Ambarisha melihat simbol Sudarsana Chakra, dia langsung merasa terhubungkan dengan Narayana.

     Pada suatu ketika sang raja dan istrinya melakukan “Dewadashi Wrata”. Ia melakukan tapa brata selama satu tahun penuh. Pada bulan Kartika, raja berpuasa selama tiga hari dengan didahului dengan mandi di sungai dan memuja Tuhan di hutan Madhuwana. Pada saat itu muncul Resi Durwasa dan segera sang raja menghormatinya dan menawarkan persembahan makanan di rumahnya. Resi Durwasa berterima kasih dan kemudian menyampaikan bahwa dia akan berendam di sungai dan baru keesokan harinya datang ke rumahnya. Resi Durwasa berendam di sungai sambil mengucap sebuah mantra yang sangat panjang. Beberapa lama kemudian sang raja berada dalam posisi yang sulit, beberapa saat lagi puasa Dewadashi berakhir dan dia harus segera makan. Akan tetapi makan mendahului seorang Brahmana yang diundang makan juga merupakan sesuatu yang melanggar etika. Sang raja minta pendapat para resi istana yang menganjurkan untuk minum beberapa tetes air dan beberapa keping daun “Tulasi” untuk memenuhi syarat berbuka puasa. Sang raja melakukan hal tersebut dan menunggu Resi Durwasa datang ke rumahnya.

     Resi Durwasa selesai melakukan ritual berendam di sungai mendatangi istana sang raja. Resi Durwasa tahu bahwa sang raja telah mendahului makan walau hanya dengan beberapa tetes air dan beberapa lembar daun Tulasi dan ini membuat dirinya tersinggung. Sang resi berkata, “Kamu telah mabuk dengan kekuasaan dan kekayaan sehingga menjadi angkuh dan tidak menghormati seorang resi. Aku akan memberi pelajaran kepada kamu!” Dan sang resi mencabut sebuah rambutnya dan menciptakan makhluk bernama Kirtya yang segera menyerang sang raja. Raja Ambarisha diam tak bergerak dan “Sudarsana Chakra” datang melindungi dan membakar makhluk tersebut. Resi Durwasa kagum sebentar dan kemudian cemas karena “Sudarsana Chakra” mengejar dirinya. Resi Durwasa berlari ke hutan akan tetapi senjata chakra tersebut selalu mengejarnya. Ia lari kedalam gua di Gunung Meru, akan tetapi sang chakra selalu mengejarnya. Akhirnya sang resi berlindung kepada Brahma yang berkata, “Aku adalah pembantu Tuhan dan aku tidak dapat mengendalikan senjata Tuhan!” Kemudian sang resi berlindung kepada Mahadewa yang berkata, “Datanglah kepada Narayana, sang pemilik senjata!” Sang resi kemudian menghadap Narayana dan berkata, “Wahai Tuhan lindungilah kami dari senjata-Mu yang mengejar-ngejar diriku. Aku telah berbuat salah dengan Raja Ambarisha dan senjata-Mu mengejar diriku ke mana pun kami pergi!”

      Narayana tersenyum dan berkata, “Durwasa, kamu juga tidak melihat bahwa aku pun sama seperti Brahma dan Mahadewa? Kamu tidak memahami diri-Ku. Aku bukan orang bebas. Aku mungkin mampu melakukan apa pun yang aku kehendaki. Tetapi aku adalah milik bhakta-Ku. Mereka sudah meninggalkan segalanya dan memilih Aku sebagai sahabat mereka. mereka meninggalkan segalanya untuk-Ku. Istri, rumah, anak, keinginan dan hidup mereka tinggalkan untuk-Ku. Mereka tidak memikirkan dunia dan tidak tergiur surga. Yang mereka harapkan hanya rahmat-Ku. Sebagai balasan, Aku tidak akan pernah meninggalkan mereka. mereka sudah menaklukkan aku dengan cinta mereka. hinaan apa pun terhadap mereka adalah hinaan kepada-Ku.”

     Narayana melanjutkan, “Durwasa, Ambarisha mengingat dan menyadari kehadiran-Ku setiap saat. Dia berserah diri penuh kepada-Ku, bahkan saat diserang Kirtya makhluk ciptaanmu, dia tak menghindar, dia telah pasrah sepenuhnya kepada-Ku, dia yakin pada kehendak-Ku dan bukan kehendaknya, sehingga senjataku Sudarsana Chakra otomatis melindunginya. Durwasa, kamu pun juga bhakta-Ku, tetapi Aku tidak bisa meminta chakra ini untuk melepaskanmu. Aku minta kamu turun ke bumi minta maaf kepada Ambarisha. Barangkali Sudarsana Chakra mau mendengarkan permintaannya.”

     Resi Durwasa kemudian datang kepada sang raja dan bersujud minta maaf atas kesalahannya dan mohon agar Sudarsana Chakara membebaskan arah dari dirinya. Sang raja sangat malu dengan tindakan sang resi yang penuh hormat kepadanya, dan kemudian berdoa kepada sang chakra, “Sudarsana, aku menghormat kepadamu. Engkau adalah Agni, Surya, Chandra dansemua bintang-bintang. Engkau adalah senjata yang disenangi Narayana yang adalah samudera kemurahan hati. Engkau menjadi sangat agung sehingga semua senjata tidak berdaya melawan kemuliaanmu. Aku minta padamu untuk memaafkan Bapa Resi Durwasa.” Sudarsana Chakra menjadi dingin dan tidak mengejar Resi Durwasa lagi.

    Sang resi berterima kasih kepada sang raja dan akhirnya mengetahui bahwa sang raja sangat menghormatinya. Selama Resi Durwasa dikejar Sudarsana Chakra, dia telah lari ke tiga dunia selama satu tahun. Dan selama satu tahun itu sang raja tidak makan sedikit pun, rupanya sang raja menunggu Resi Durwasa yang diundang makan datang baru sang raja makan. Akhirnya mereka makan bersama.

BHAGAVATA PURANA


KISAH RAJA YAYATI

     Resi Sukra adalah Guru dari Raja Asura Warsaparwa. Dewayani putri Resi Sukra berteman dengan Sarmishta putri Raja Warsaparwa. Pada suatu hari mereka dengan beberapa temannya mandi di sungai. Mendadak angin besar bertiup yang membuat pakaian mereka mulai terbang. Para gadis segera naik ke pinggir sungai mengejar pakaiannya dan segera pulang sambil berlari. Tanpa sadar Dewayani bertukar baju dengan Sarmistha. Kemudian terjadilah keributan, Dewayani menganggap Sarmishta tidak sopan karena seorang asura mengapa berani memakai pakaian putri seorang brahmana. Padahal sang brahmana, Resi Sukra adalah Guru dari raja asura. Karena dibimbing Resi Sukralah  maka kaum asura menjadi jaya. Sarmishta tidak menerima Dewayani menghina ayahandanya dengan mengatakan, bahwa bagaimanapun ayahnyalah yang memberi makan sang resi, sehingga sang resi dapat diibaratkan sebagai seorang pengemis. Mereka adu mulut, dan karena angin bertambah besar Sarmistha berlari duluan pulang. Sedangkan Dewayani yang berlari dalam keadaan angin yang bertiup semakin kencang, kemudian  terperosok masuk ke dalam sumur.

    Pada hari itu Raja Yayati putra Raja Nahusa sedang berburu. Dan, tanpa sadar sang raja  mengendalikan kudanya menjauh dari rombongannya. Ketika sampai pada sebuah sumur, dia mendengar suara perempuan terisak-isak. Ditolongnya perempuan cantik tersebut yang mengenalkan diri sebagai Dewayani, putri Resi Sukra. Ketika sang raja mau pergi, Dewayani menangis. Dewayani mengatakan bahwa dia adalah seorang perawan dan sang raja telah menolongnya keluar sumur dengan memegang tangan kanannya. Sudah seharusnya sang raja menjadi suaminya. Raja Yayati bingung, Resi Sukra adalah seorang mahaguru yang dihormati tiga dunia. Raja Asura Warsaparwa, dirinya sebagai raja manusia dan Indra sebagai  raja dewa pun menghormati Resi Sukra. Sang raja berkata bahwa dia tidak berani menjadi suami Dewayani sebelum Resi Sukra mengizinkannya. Sang Raja takut apabila Resi Sukra tidak berkenan dia akan terkena kutukannya.

     Ketika Sarmishta melaporkan kejadian keributan antara dirinya dengan Dewayani kepada ayahnya, ayahnya khawatir Resi Sukra tidak akan berkenan menjadi guru para asura lagi. Kemudian raja Warsaparwa mengajak Sarmistha beserta seribu dayangnya diajak mendatangi rumah Resi Sukra. Pada waktu itu Dewayani juga sedang melaporkan kejadian adu mulut dengan Sarmistha kepada Resi Sukra. Sang raja berkata kepada Dewayani, “Kekuatanku dan kekayaanku diperoleh atas bantuan Resi Sukra. Asura yang mati dalam peperangan dihidupkan kembali oleh sang resi sehingga asura mengalami kejayaan. Perintahkan kepadaku apa yang harus kulakukan agar Resi Sukra tetap menjadi mahaguru kaum Asura.”

    Selanjutnya, Dewayani meminta agar Sarmishta beserta seribu dayangnya menjadi pelayan Dewayani dan mengikuti kemana pun dia pergi. Ketika Sarmishta ditanya ayahandanya mengenai kesanggupannya dalam  menjalani perintah Dewayani, Sarmishta berkata, “Sudah sewajarnya seseorang yang mendapat masalah harus mencari jalan keluar penyelesaiannya. Akan tetapi pengorbanan ini dilakukan demi seorang raja yang kebetulan menjadi ayahnya dan juga demi rakyat di kerajaan ayahandanya. Saya patuh pada permintaan Dewayani.” Sejak saat itu Sarmishta dan seribu dayangnya menjadi pelayan Dewayani.

     Ketika Raja Yayati sedang berburu lagi, dia bertemu kembali dengan Dewayani diiringi seorang gadis cantik yang bernama Sarmishta beserta seribu dayangnya. Resi Sukra yang hadir di tempat itu mengizinkan dirinya mengawini Dewayani, akan tetapi berpesan agar tidak mengawini Sarmishta. Dan, Dewayani akhirnya menjadi istri Raja Yayati dan tinggal di istana. Sarmistha beserta seribu dayangnya menjadi pelayan Dewayani di istana.

    Di halaman istana yang luas Sarmishta dan seribu dayangnya melayani Dewayani yang telah menjadi istri raja Yayati. Pada suatu hari kebetulan sang raja bertemu dengan  Sarmishta di halaman belakang istana. Dan, Sarmishta pun piawai dalam menarik perhatian sang raja dengan menceritakan kejadian yang menimpanya. Bahwa sebetulnya Dewayani yang duluan memakai pakaian dan keliru memakai pakaian dirinya. Kemudian Sarmistha menceritakan bahwa Ayahandanya minta maaf kepada Resi Sukra dan Dewayani. Dewayani kemudian meminta dia beserta dirinya menjadi pelayan ke manapun Dewayani pergi. Hal tersebut dijalaninya dengan patuh demi raja yang menjadi ayahandanya dan seluruh rakyat asura. Sang raja mendengarkan dan memperhatikan Sarmistha yang cantik bercerita.

     Raja Yayati terpesona oleh gaya cerita Sarmishta. Terketuk oleh kebesaran jiwa Sarmishta, dirinya mengajak Sarmishta kawin secara gandarwa. Pernikahan gandarwa adalah tradisi pernikahan para kesatria zaman dahulu yang berdasarkan suka sama suka antara seorang pria dan seorang wanita, tanpa ritual dan tanpa saksi. Akhirnya terjadilah perkawinan gandarwa antara Raja Yayati dengan Sarmishta, putri raja Warsaparwa. Dari Dewayani lahirlah dua putra Yadu dan Turwasu. Dan dari Sarmishta lahirlah tiga putra Druhyu, Anu dan Puru.

     Dulu sang raja takut mendapat kutukan Resi Sukra bila menikahi Dewayani meminta sang raja untuk menikahinya, sekarang ketakutan serupa muncul karena dirinya telah melanggar nasihat Resi Sukra untuk tidak menikahi Sarmishta. Pada suatu hari, Dewayani pergi ke halaman istana dan melihat tiga anak menjelang remaja yang tampan. Ditanyailah mereka bertiga dan mereka menjawab, “Kami adalah putra Raja Yayati dan ibu kami adalah Sarmishta.” Dewayani sangat terpukul.  Dia ingat pada waktu waktu remaja, ada murid ayahnya yang sangat tampan bernama Kaca. Sebagai anak remaja tentu saja dia menyukai Kaca. Ketika Kaca telah menyelesaikan pelajaran dan berniat pamit kepada Resi Sukra, dirinya minta agar Kaca mengawini dirinya. Kaca menolak, karena dirinya belum dewasa dan lagi pula Dewayani adalah putri gurunya yang sangat dihormatinya. Pada waktu itu Dewayani mengutuk Kaca bahwa ilmunya tidak akan mencapai kesempurnaan. Akan tetapi Sang Kaca tidak takut, karena dia memang bersih tanpa kesalahan. Bahkan Kaca balas mengutuk Dewayani bahwa nantinya dirinya akan dimadu oleh budaknya. Dan kutukan tersebut kini menjadi kenyataan.

    Dewayani kemudian lapor kepada Resi Sukra dan Resi Sukra berang dan mengutuk sang raja bahwa dirinya akan cepat menua daripada seharusnya. Sang raja mohon agar kutukannya dicabut, karena ketuaanya akan merugikan kerajaan dan juga istri-istrinya. Resi Sukra berkata, “Kutukan tersebut bisa diwakili oleh salah seorang putramu. Hanya pesanku, bila putramu bersedia berkorban dan kau masih ingin kemudaan, bila masih dalam batas etika, nikmatilah dunia ini, nikmatilah sepenuhnya sampai kamu merasa jenuh, sehingga obsesimu akan selesai dan tidak menggodamu lagi. Semuanya terjadi menurut Kehendak-Nya dan bukan kehendak manusia. Kita semua adalah alat-Nya belaka!”

    Kepada Dewayani Resi Sukra berkata, “Putriku, dulu kau minta aku menyetujui perkawinanmu dengan Yayati, sekarang kau meminta aku mengutuk Yayati. Kau belum betul-betul mencintai dirinya, kau baru mencintai egomu sendiri. Renungkanlah!” Dan, Dewayani termenung.

BHAGAVATA PURANA


Kisah Puru: Putra Yayati

     Raja Yayati mengalami ketuaan karena kutukan Resi Sukra yang tersinggung karena sang raja yang sudah menjadi menantunya mengabaikan nasihat sang resi untuk tidak menikahi Sarmishta. Resi Shukra menyatakan bahwa penyakitnya bisa sembuh bila ada salah seorang putranya yang sanggup menukar kemudaannya dengan ketuaan sang raja. Raja Yayati kemudian mendatangi para putranya. Pertama Yayati mendatangi Yadu putra sulung hasil perkawinannya dengan Dewayani. Yadu berkata, “Ayahanda, aku ingin melaksanakan tugas sehari-hari dengan baik. Apa yang akan terjadi saat rambutku memutih dan tenagaku lemah? Umur tua tidak menyenangkan Ayahanda dan aku tidak mau bertukar usia dengan Ayahanda!” Kemudian Yayati mendatangi Turwasu, putra keduanya. Turwasu berkata, “Tidak Ayahanda, aku tidak ingin umur tua menghilangkan kekuatanku dan ketampananku!” Yayati kemudian mendatangi Druhyu dan Anu, putra sulung dan putra kedua dari perkawinannya dengan Sarmistha. Akan tetapi keduanya juga menolak menukar usia mudanya dengan usia tua ayahandanya. Ketika Yayati mendatangi putra bungsu dari perkawinannya dengan Sarmistha, dia sudah siap menerima penolakannya dan berupaya akan menerima usia tuanya dengan sebaik-baiknya.

     Raja Yayati menemui Puru, putra bungsunya. Sang raja menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya sejak pertemuannya dengan Dewayani dan Sarmishta, sampai dirinya dikutuk oleh Resi Sukra menderita penyakit tua dan hanya akan kembali muda bila ada seorang putranya yang sanggup menukar usia mudanya dengan ketuaan dirinya. “Putraku aku telah menjelaskan semuanya kepadamu, agar kamu dapat menarik hikmah dari kejadian yang telah kualami.” Tidak ada yang perlu disesali, semuanya sudah terjadi, yang penting tidak diulangi. Keinginan-keinginan duniawiku membuat siklus hidupku semakin panjang. Aku tidak begitu berhasrat lagi untuk memintamu menggantikan diriku menerima kutukan Resi Sukra. Aku akan menerimanya dan sisa waktuku yang lebih sedikit akan kugunakan untuk bertapa.”

     Puru berkata, “Ayahanda, kakak-kakakku menolak menukar usia mudanya dengan ketuaan Ayahanda dan mereka juga telah kau tolak sebagai putra mahkota. Diriku pun masih terlalu muda untuk menjadi penggantimu bila ayahanda pergi bertapa. Demi ibunda, demi ayahanda, demi kerajaan ini aku merelakan usiaku menjadi tua, kuterima tugas menggantikan diri Ayahanda untuk menjalani kutukan. Semoga ayah dapat memperoleh seorang putra lagi untuk menjadi putra mahkota. Semoga ayah menyelesaikan tugas-tugas yang masih tertunda……” Jawaban Puru membuat Raja Yayati kaget, terharu dan butir-butir air matanya bercucuran.

     Puru masih remaja dan belum banyak mengenal sastra, buku-buku suci. Akan tetapi Puru dengan tulus mengikuti suara hatinya. Tak ada rasa takut, tak ada penyesalan di dalam hatinya. Puru bahagia melihat ayahandanya bahagia, kemudian ibundanya akan berbahagia dan seluruh rakyat pasti akan berbahagia pula, karena masih mempunyai raja yang kuat. Tanpa disadari dalam diri Puru sudah bangkit “Rasa Kasih”.

    Raja Yayati menjadi muda kembali dan memerintah kerajaan dengan adil dan bijaksana. Kemarahan Dewayani sudah berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Bahkan kini Dewayani telah dikaruniai seorang Putri bernama Madawi. Dewayani bahkan memberikan penghormatan kepada Puru atas pengorbanannya. Sarmishta sedih melihat putranya yang kelihatan tua, tetapi sekaligus bangga mempunyai putra yang berjiwa agung.

     Kesadaran Raja Yayati dan kedua istrinya meningkat. Raja Yayati sadar, “Wahai Gusti Hyang Maha Kuasa, kami menyadari bahwa apa pun yang kami alami, sebetulnya adalah akibat dari tindakan kami sendiri di masa lalu. Bagaimana cara menghadapi masalah yang berada di depan mata, itulah pilihan yang ada pada saat ini, yang akan menentukan akibat ke depan.” Kemudian Raja Yayati bersyukur, “Terima kasih Gusti yang telah memberikan kami kesempatan untuk menyelesaikan tugas yang harus kami selesaikan dalam kehidupan ini. Wahai Gusti, kami juga bersyukur bahwa Gusti telah menganugerahi kami dengan putra yang berjiwa luhur.”

    Dan, akhirnya pada suatu hari Raja Yayati memanggil Puru untuk mengembalikan kemudaannya. Puru setelah menjadi muda kembali, kemudian dinobatkan sebagai raja pengganti Yayati. Yayati berkata, “Putraku aku dulu salah dalam mengidentitaskan diriku. Pikiranku ku anggap sebagai diriku sehingga aku terombang-ambing antara mengejar kesenangan dan ketakutan mengalami penderitaan. Kini aku sadar. Kelahiranku, kehidupanku, semua sudah ditentukan sebelumnya, tetapi bagaimana cara menghadapi ketentuan itu sepenuhnya tergantung pada diriku sendiri. Dan kini aku memutuskan menyerahkan kemudaan dan kekuasaan kerajaan kepadamu.”

     Raja Yayati juga sudah memaafkan para putra yang lain, Yadu diminta menjadi raja di Daerah Selatan, Druhyu menjadi raja di Barat Daya, Turwasu dan Anu di daerah Utara. Yayati kemudian mengembara di hutan memusatkan perhatian kepada Tuhan sampai akhir hayatnya.

    Resi Shukabrahma putra Bhagawan Abyasa mengakhiri kisah tentang Puru kepada Parikesit dengan berkata, “Dari Yadu putra Dewayani lahirlah kaum Yadawa yang termasuk para raja Surasena, Kunti dan Chedi. Sri Krishna berasal dari Dinasti Yadawa. Sedangkan Pandawa, nenek moyangmu berasal dari keturunan Puru. Dari Turwasu lahir para raja di Utara. Dari Druhyu lahir para Raja Gandhara, Dari Anu lahir para raja Angga, Pundra, Kalingga, Wangga dan Suhma.”

BHAGAVATA PURANA


Kisah Dusyanta: Leluhur Pandawa

     Raja Dusyanta adalah salah seorang raja bijaksana dari dinasti Puru. Dia dihormati seluruh rakyatnya. Pada suatu kali dalam perjalanan inspeksi di wilayah kerajaannya, sang raja mampir ke pertapaan Resi Kanwa. Raja Dusyanta bertemu dengan seorang putri cantik yang memperkenalkan diri sebagai putri angkat Resi Kanwa. Shakuntala adalah putri dari Rajarishi Kausika dengan Bidadari Menaka. Rajarishi Kausika melanjutkan pertapaannya untuk mencapai derajat Brahmarishi. Dan, nantinya Sang Rajarishi akan mencapai Brahmarishi bergelar Resi Wiswamitra. Pada suatu hari Menaka harus kembali ke kahyangan dan meninggalkan bayi perempuan kecil di dekat pasraman Resi Kanwa, sahabat dari Rajarishi Kausika. Resi Kanwa menemukan bayi perempuan kecil ditemani burung-burung shakunta, maka anak tersebut diberi nama Shakuntala dan diangkat sebagai putri angkatnya.

     Raja Dusyanta berbahagia kala mendengar bahwa Shakuntala adalah putri Rajarishi Kausika. Dusyanta melamar sang putri menjadi istrinya dan berjanji putra mereka akan menjadi putra mahkota. Shakuntala meminta agar mereka menunggu kepulangan Resi Kanwa, tetapi sang raja terus mendesaknya. Karena kedua hati telah bertaut, maka mereka mengadakan perkawinan secara gandharwa. Pada masa itu seorang kesatria diperbolehkan kawin secara gandharwa. Setelah beberapa lama, Raja Dusyanta kembali ke istana dengan rasa penuh ketakutan terhadap Resi Kanwa. Ada beberapa senjata yang paling ditakuti orang di masa itu, senjata raja adalah pasukannya, sedangkan senjata resi adalah kutukannya. Resi Kanwa datang setelah Raja Dusyanta pergi. Shakuntala masuk kamar, malu menemui ayah angkatnya. Dengan mata batinnya, sang resi paham apa yang telah terjadi. Sang resi berkata, “Shakuntala, aku tidak marah, aku merestui perkawinanmu. Dusyanta adalah raja besar yang adil bijaksana. Ia raja terbaik. Kamu akan menjadi ibu dari putra yang akan menjadi maharaja agung.”

     Tahun demi tahun berlalu, Sarwadamana, sang putra menjadi besar dan nampak aura kewibawaan yang memancar darinya.  Tetapi Dusyanta belum datang juga. Shakuntala merasa waktu berjalan sangat lambat.

     Akhirnya Resi Kanwa memanggil Sarwadamana, “Cucuku, dari pihak ibumu kau adalah cucu dari Rajarishi Kausika yang agung, yang penuh semangat meniti ke dalam diri, bahkan meninggalkan tahta, membantu orang yang kesusahan dan dihormati bahkan oleh seluruh dewa. Dari pihak ayahmu, Dusyanta mempunyai garis keturunan dari Raja Puru putra Yayati yang bijaksana. Kamu mempunyai genetika bawaan sempurna sebagai raja, sekarang bawa ibumu menghadap ayahmu. Kau jangan memaksa ayahmu menerima dirimu sebagai putranya. Bila dia belum menerima, jangan paksa, yakinlah ada waktunya dia akan memelukmu memanggilmu putra. Aku segera melakukan samadhi mencoba menghubungi kakekmu yang masih bertapa. Dia akan membantumu dari jauh. Yakinlah.”

     Shakuntala kemudian menurut saja digandeng sang putra menuju istana. Sang putra berkata, “Ibu aku telah dipesan kakek, sebaiknya ibu menceritakan kisah sebenarnya kepada ayahanda. Setelah itu jangan menangis. Diterima atau tidak diterima ayahanda adalah urusan Gusti. tetapi masalah ini harus terselesaikan. Sehingga arah hidupku menjadi jelas menjadi putra raja atau mengikuti kakek menjadi seorang pertapa.” Sepanjang perjalanan semua orang memperhatikan mereka dengan penuh penghormatan. Seorang ibu muda yang anggun bak dewi kahyangan dengan putra yang tampan dan memancarkan aura kewibawaan. Wajah sang putra tidak asing bagi mereka, itu adalah wajah raja Dusyanta.

    Sampai di istana mereka melihat sang raja sedang duduk di singgasana. Sang putra segera mengajak sang ibunda bersujud menghormati Gusti yang mewujud sebagai raja. Shakuntala kemudian mengingatkan sang raja tentang kejadian sewaktu sang raja berkunjung ke rumah Resi Kanwa, “Demikian Paduka Raja Dusyanta, ini adalah putramu hasil paduan kasih dari kita berdua.” Sang Raja kaget, dan tegang luar biasa, “Tidak, aku tidak ingat benar siapa engkau, nampaknya kita pernah bertemu tetapi aku lupa.” Kelemahan dari perkawinan gandharwa adalah tidak adanya saksi atas perkawinan tersebut. Raja Dusyanta bingung, bagaimana dia dapat memberi pemahaman kepada para menterinya tentang kejadian tersebut. Siapa yang dapat membuktikan bahwa remaja tersbut adalah benar-benar putranya? Ini adalah masalah besar bagi kerajaan. Begitu diakui, maka otomatis sang remaja menjadi putra mahkota. Yang tahu betul putra siapa adalah ibunya, tetapi apakah ibunya dapat dipercaya atau tidak? Dan Dusyanta kebingungan.

     Shakuntala berkata, “Ingatlah paduka raja mengajariku agar bertanya pada Atman yang berada dalam diriku untuk kawin denganmu. Sesuai kesadaranku pada waktu itu Manas, pikiran kuanggap Atman. Pikiranku segera memberikan persetujuan. Bahkan aku tidak peduli tentang kesadaranku, yang jelas aku sepenuh hati menjadi istrimu. Paduka raja, sekarang bertanyalah pada Atman-mu jangan pada Manas-mu! Seorang raja yang menipu dirinya, menipu Atman-nya tidak akan pernah bisa mendapatkan ketenangan. Mungkin paduka akan menolakku karena aku anak hasil perkawinan seorang raja dengan bidadari, tetapi paduka tak dapat menolak darah dagingmu sendiri. Paduka saya ingatkan bahwa nenek moyang paduka,  Ayu adalah putra dari raja Pururawa dengan Urwasi yang seorang bidadari juga.”

     Shakuntala menangis, hatinya tersayat dan penuh kekecewaan dan kemarahan. Sang putra segera menggandeng ibunya meninggalkan istana, “Bunda tenanglah, arah hidupku telah jelas, aku akan menjadi pertapa yang paling baik yang dapat membahagiakan dirimu. Yakinlah pada putra remajamu ini! Bunda mari pergi tinggalkan istana ini!” Sang remaja berkata, “Wahai paduka raja, aku mendengar dari kakek Resi Kanwa, bahwa kebenaran ucapan adalah sama agungnya seperti pelajaran kitab suci dan membersihkan diri di sungai-sungai suci. Tidak ada dharma yang lebih besar selain kebenaran. Brahman adalah kebenaran mutlak. Jangan menghina Brahman dalam diri paduka. Paduka, Aku dan bunda mohon diri.”

     Sang raja tertegun, melihat punggung sang ibu dan sang anak. Hatinya ingin mengakui, tetapi dia malu kepada seluruh menterinya. Mau bicara tidak bisa, mau berdiri tidak mampu. Semua yang hadir tersentuh melihat sang ibu muda menangis terisak-isak, dihibur putra remaja yang tabah dan perkasa. Tiba-tiba datang suara membahana dari langit: “Dusyanta, perempuan ini adalah istrimu, dan anak remaja ini adalah putramu. Dia akan menjadi maharaja yang besar melebihi dirimu. Shakuntala telah berkata benar. Jangan menghina Shakuntala yang telah lama menderita.” Tiba-tiba nampak para dewa di langit yang berkata, “Kemarahan seorang perempuan akan menghancurkan seluruh keluarga keturunan Puru. Kejar segera isterimu, tenangkan isteri yang luhur itu. Panggillah putramu dengan nama Bharata karena kami sudah memintamu mengambil dia. Bhara berarti melindungi, mengawal. Karena putramu inilah anak keturunanmu dipanggil sebagai dinasti Bharata”. Dusyanta segera mengejar Shakuntala dan Bharata dan meminta mereka menjadi permaisuri dan putra mahkota.

     Mata Parikesit menitik mendengar kisah yang disampaikan Resi Shukabrahma dan berkata pelan, “Wahai Guru, sejatinya hanya karena rahmat Ilahi kami menjadi salah satu keturunan Bharata.  Bagaimana dengan Shakuntala-Shakuntala dan Bharata-Bharata lain yang menjadi korban perkawinan gandharwa, yang ayahnya tetap tidak mengakui?”

    Resi Shukabrahma berkata, “Wahai Raja, semua yang lahir dan hidup tidak dapat lepas dari hukum sebab-akibat. Menanam padi menunggu panen 4 bulan. Menanam pohon jambu menunggu panen 7 tahun. Menanam pohon jati bisa menunggu puluhan tahun. Pikiran, ucapan dan tindakan kita merupakan benih tanaman dan tak ada seorang, bahkan dewa pun yang tahu kapan panennya. Menerima dan menghadapi panen di depan mata dengan penuh kesadaran. Itulah intisari kehidupan. Bagaimana pun itu semua terjadi dalam jaring ilusi maya. Karena kesadaran kita masih pada tingkatan mental emosional. Para suci kesadarannya telah melampaui kesadaran mental emosional. Semua tindakannya berdasar intelegensia, selaras dengan alam. Bahkan sudah mencapai kesadaran murni, kebahagiaan hakiki. Mereka sudah tidak terpengaruh oleh peristiwa yang terjadi di luar……”

  JARASANDHA Kamsa menikah dengan dua putrid Jarasandha. Anak-anak perempuan Jarasandha ini adalah Asti dan Prapti. Mendengar bahwa Krishn...